MORNING SICKNESS

August 14th, 2006 by samanthaschool

            Morning Sickness kerap terjadi pada wanita hamil atau peminum alcohol pemula. Sebabnya untuk peminum alkohol itu sebenarnya satu, pola istirahat yang jadi tidak beres, itulah kenapa aku bilang pemula, sebab yang sudah alkoholik tubuhnya sudah membuat semacam pengkebalan pada syaraf-syaraf di kepala terhadap tingginya kadar alkohol dalam darah. Penyebab pasti datangnya morning sickness biasanya karena tidur terlalu larut gadang semalaman bersama teman-teman lantas bangun terlalu pagi karena kebutuhan buang hajat atau terbangun karena lapar. Lapar ini disebabkan oleh energi yang terlalu banyak keluar, entah kenapa pengaruh alkohol menguras energi lebih banyak ketimbang saat tidak mengkonsumsinya. Setelah itu biasanya susah tidur lagi, bila tidak langsung mendapat nutrisi, sakit kepala akan mulai menyerang.

            Sakit kepala ini akan hilang sebenarnya bila langsung makan dan lantas tidur lagi, pasti akan ngantuk lagi kok setelah makan. Nah, tapi ada beberapa yang tiba-tiba kehilangan percaya dirinya akan kesembuhan dengan hanya istirahat dan makan yang cukup. Mereka biasanya menghancurkan hatinya, dalam arti sebenarnya, dengan obat sakit kepala.

            Kutip ahli…

            

            Orang-orang ini, para peminum obat sakit kepala, atau pain killer user (selanjutnya akan disebut dengan PKU), pasti mengenal wajahnya. Wajahnya pasti sudah dilihat oleh jutaan orang, terkenal? Ya. Populer? Tidak. Dia memiliki wajah yang terpampang pada bungkus obat sakit kepala paling terkenal di negeri ini. Meski para PKU tidak tahu siapa dia, siapa namanya, seperti apa hidupnya, orang juga banyak yang gak peduli atau gak ngeh sama sekali bahwa cover boy obat sakit kepala itu punya kehidupan. Tidak hanya sekedar foto oarang dengan lingkaran-lingakaran bertumpuk di kepalanya. Sekarang, untuk yang ingin tahu, PKU atau bukan, akan kukenalkan dia pada kalian. Namanya Dion, peminum berat, dan seperti kebanyakan cover boy atau selebritis lain, gaya hidupnya sangat glamour. Tapi karena dia hanya seorang cover boy bungkus obat, meski saat itu seleksinya sangat ketat dan dibayar sangat mahal, Dion tidak terkenal, tidak seterkenal cover boy majalah-majalah dewasa. Mana ada wartawan infotainment yang peduli dan ngeh sama dia, cover boy bungkus obat? Please deh… kecuali Dion tiba-tiba menghamili seorang penyanyi yang baru beranjak gede kayak Agnes Monica atau Dea Ananda.

            Dion terpilih sebagai cover boy bungkus obat itu dalam sebuah seleksi yang sangat ketat. Kaegorinya adalah, wajah itu harus mewakili semua wajah yang sedang mengalami sakit kepala. Wajah tampan tapi ada penderitaan besar disana, dimatanya. Dan Dion memiliki syarat syarat itu lantas dia terpilih. Berbeda dengan coverboy-coverboy sebelumnya, kali ini ada perubahan konsep untuk wajah yang mereka pilih. Mereka memilih dion yang memiliki karakter berbeda dibanding cb-cb sebelumnya

Sebagai sebuah catatan, produk obat sakit kepala ini sudah muncul selama 30 tahun lebih, dan setiap 5 tahun sekali mereka mengganti cover boy bungkusnya. Dan selalu dengan wajah yang itu, agak gemuk, baju berkerah simbol pekerja, karena targetnya memang kelas menengah, kelas pekerja, sekarang, karena perusahaan advertising yang mendapatkan oreder untuk mendesign covernya beganti pemilik, anak-anak muda dengan kreativitas yang lebih fresh dan mencoba meningkatkan target segmentnya, bukan hanya para kelas pekerja tapi juga anak-anak muda yang mulai mengalami trend stress dini karena semakin hari negeri ini semakin sakit, anak-anak muda yang seharusnya ceria menikmati hidup sekarang mulai tergantung dengan paun killer, begitulah lantas secara inisiatif produk ini mulai menambah target segmentnya, memanfaatkan kondisi sakitnya jaman, tahun 2000an…executive muda…

            Sesi pemotretan dilakukan di sebuah studio advertising di jakarta. Hari yang panas…

bersambung…

Bagian Empat: Sangkuriang dan Kontroversinya

June 25th, 2006 by samanthaschool

Bagian Pertama

Sangkuriang, Glossolalia Lelaki Tua dan Selinting Bako Mole

Sebagai informasi yang cukup penting, lelaki tua yang akan saya ceritakan dibawah ini sebenarnya adalah seorang tokoh sejarah yang sangat berpengaruh dalam perkembangan penemuan manuskrip-manuskrip sejarah sunda. Penemuannya itu masih terus dipakai sebagai bahan rujukan di beberapa jurusan sejarah di kampus-kampus, baik di Indonesia maupun di luar negeri, terutama Belanda dan Perancis. Meski beberapa puluh tahun kemudian, banyak teorinya yang dibantahnya sendiri melalui penelitian-penelitian barunya yang terkesan emosional tapi menurut saya malah lebih akurat dibanding teori-teori sebelumnya. Akibat dari kesan emosional inilah pada akhirnya teori-teori barunya tidak terlalu dianggap oleh kaum akademisi. Mereka menganggap bahwa Si Tua ini sudah pikun dan mulai merengek-rengek seperti anak kecil. Hingga akhirnya Si Tua ini tidak lagi diketahui rimbanya di dunia akademis dan beberapa desas-desus mengatakan Lelaki Tua ini berkeliaran di jalan dengan hanya memakai celana dalam dan baju rombeng. Sampai suatu saat seorang pemuda bernama Niskala menceritakan pertemuannya dengan Lelaki Tua ini lengkap dengan semua percakapannya pada saya beberapa waktu yang lalu. Berikut ini adalah reduksi saya mengenai pertemuan dan percakapan mereka dengan efek dramatis yang saya cipatakan tentu saja dengan gaya saya agar bisa lebih dinikmati sebagai sebuah karya fiksi. Tokoh “aku” dalam cerita dibawah ini adalah Niskala. Saya sengaja mengubah subjek menjadi tokoh aku karena pada saat saya membuat naskah ini saya memakai sudut pandang Niskala dalam penggambaran ceritanya. Seorang lelaki tua, meski tidak berkarat, kau bisa melihat ketuaannya melalui mata mapannya, tajam, bijak dan sedikit merengek khas orang tua, menghembuskan asap bako mole berlintingkan daun kawung berbau 5 dekade lalu yang membawanya pada sebuah pelaminan sakral tanpa teks-teks terjemahan, yang membawaku pada saat-saat kota Bandung masih memiliki ribuan pohon rindang dan kereta kuda berlalu lalang, sejumput memori, kematian Daendels, berderet-deret heritage, pakaian vintage dan sebuah kata baru yang begitu halus dari majalah Poesaka Soenda. Ia mengerutkan keningnya yang terbangun oleh sejarah dan bentuk-bentuk huruf Sanskrit yang dimulai oleh ha dan diakhiri oleh ngha. Sejarah yang begitu disesalinya. Begitu tidak inginnya dia mengingat itu seperti kau tidak ingin mengingat seorang wanita yang kau pikir begitu mencintaimu tapi kau pernah memergokinya bercinta dengan lelaki lain dan lantas saat itu kau memberikan apologi atas tingkahnya itu meski sebenarnya kau sangat ingin membunuh keduanya saat itu juga tapi kau tidak melakukannya karena kau mencintainya, yang ada dalam pikiranmu adalah menyodomi laki-laki itu hingga laki-laki itu menyesal pernah lahir ke dunia. Kira-kira seperti itulah yang ingin dilakukannya pada Belanda yang pernah bercinta dengan leluhurnya yang dia pikir sangat mencintainya tapi dia memergoki percintaan itu dengan telak dan lantas saat itu dia memberikan apologi atas tingkah leluhurnya itu meski sebenarnya dia sangat ingin membunuh keduanya saat itu juga tapi dia tidak melakukannya karena dia mencintai leluhurnya dan seluruh peradabannya yang sudah terperkosa itu, yang ada dalam pikirannya adalah menyodomi Belanda hingga Belanda menyesal pernah menginjakan kaki di tanah Sunda yang begitu dicintainya itu. Belanda mengubah seluruh sejarah leluhurnya (yang sudah ribuan tahun dibangun melalui tradisi lisan) menjadi teks-teks tanpa ruh menggelayuti berbagai kaitan makna dan kata, semewujud kehambaran itu sendiri, sehambar keheningan artifisial yang diciptakan oleh kejemuan yang memadat hingga nyaris mati, menyebalkan sekaligus memuakkan, membuatnya serasa ingin muntah seperti minum berbotol-botol wine padahal yang diminumnya hanyalah segelas lemon squash dingin dengan kadar soda yang masih tinggi dan tingkat keasaman yang juga tinggi yang seharusnya membuat otaknya justru menyegar saat itu juga tetapi tidak karena rasa asam dan soda malah terinterpretasi dalam kepalanya sebagai berbotol-botol wine. Cerita-cerita seperti Sangkuriang, Kabayan, dan Dalem Boncel yang setiap generasi mengalami perubahan akibat kecenderungan improvisasi yang sewajarnya dilakukan oleh kepala dan lidah berubah menjadi baku karena tulisan (teks dan konteks) yang dipaksakan agar -seolah akan- abadi. Padahal yang terjadi malah membusuk dan abadi dalam keterbusukannya, terus melusuh seperti buku-buku tua di perpustakaan daerah dengan manajemen buruk karena dipenuhi korupsi gila-gilaan yang dilakukan oleh para pustakawan dan atasan-atasannya. Kering improvisasi, kering reduksi, kering diksi. Ia, menurut ceritanya, tidak pernah mengenal huruf-huruf dalam tradisi leluhur Sunda. Meskipun banyak ahli yang sok tahu mengatakan bahwa Sunda memiliki tradisi tulisan dengan huruf-huruf sanskrit. BullShit! Saat itu segala hal mengalir, pengetahuan mengalir dari satu mulut ke mulut lain tanpa pernah menjadi baku. Bahasa bagaikan air, mengalir dan luwes mengikuti tempatnya berpijak. Kata-kata seperti angin, menghembus… dia menyulut lintingan barunya yang tersusun rapi dalam sebuah kain bersablonkan 345 dengan garis plesetan dari kertas rokok Dji Sam Soe, berbau sapi betina yang baru diperah susunya, menguik… Huruf-huruf itu dijejalkan kedalam otaknya seperti sampah busuk, memprovokasinya, meracuninya, menggilasnya menjadi serpih-serpih tinja, dan mengotori seluruh bagian sejarah yang pernah dielu-elukannya bersama teman-temannya waktu kecil dulu. Di sebuah leuwi, berenang telanjang sambil menceritakan kekonyolan Si Kabayan yang selalu memiliki versi yang berbeda-beda untuk satu tema yang sama, dan masih tetap lucu dengan bagian penekanan lucu di wilayah yang berbeda-beda, dia menikmatinya waktu itu. Sekarang, Si Kabayan sudah menjadi buku dan laris, lalu satu kali dibaca, selesai, lantas ditumpukan dalam tumpukan-tumpukan kertas yang lain yang menggelora untuk menggeliat melepaskan diri dari keterpurukan stigma jenuh yang dibangun oleh huruf-huruf itu sendiri… lantas menguning disana, rapuh, renta, tua … Saya, katanya, lebih suka menyebutnya “teks-teks sekarat”. Setelah 10 menit berlalu dari kontemplasinya, dia melanjutkan ceritanya: “Tumpukan mayat kertas itu sebenarnya nyaris kubakar, sebab sebenarnya itulah yang mereka minta, itulah yang kertas-kertas itu inginkan. Agar lidah masih tetap berfungsi sebagai pencerita dan kepala berfungsi memberikan ruh-ruh reduksi dan improvisasi setiap kali ada pengulangan cerita dari satu orang ke orang lainnya. “Total pada saat itu aku sudah mendengar 1.347 cerita Sangkuriang dalam versi yang berbeda. Tapi sekarang akibat benda rapuh yang kita sebut tulisan itu, paling banyak aku hanya mendapatkan 15 versi dan salah satu diantaranya berupa gambar bergerak (Dalam film ini Sangkuriang menjadi Indo menjelma Cliff Sangra dan Dayang Sumbi menjadi Indo pula menjelma Suzanna) yang diterjemahkan dari kertas berisi tulisan versi ke 8 yang ditemukan oleh salah seorang sejarawan Sunda berkebangsaan Belanda 3 abad lalu. Tulisan itu berhuruf Pallawa dengan bahasa Sanskrit ditemukan di salah satu pulau kecil di utara Lombok. Sungguh menggelikan… dan orang-orang malah percaya (dipaksa untuk percaya/dipropaganda sehingga akhirnya percaya) bahwa kisah dalam manuskrip versi ke-8 itulah yang paling benar. Ada beberapa hal/bukti mengapa masyarakat percaya pada manuskrip versi ke-8 itu. Yaitu; Tebalnya kira-kira 3 kali lebih besar dari yang paling tebal dari ke-13 manuskrip yang pernah ditemukan. Judul yang paling sesuai untuk cerita yang diungkapkan. Tidak ada satupun dari ke-13 manuskrip itu yang berjudul “Sangkuriang” beberapa diantaranya berjudul sama yaitu, dosa pertama. Dan yang lainnya hampir rata2 berjudul buruk, tidak langsung mengacu pada tokoh yang diceritakan. Kebiasaan sastrawan pada masa itu selalu memberikan judul pada kisahnya langsung memakai nama tokoh utama dalam cerita tersebut. Judul untuk manuskrip ke-8 ini adalah Dayang Sumbi dan anak laki-lakinya. Meskipun ditemukan dalam urutan ke-8, melalui hasil test sinar x, manuskrip ini adalah yang paling tua. Tak ada satupun dari ke-13 manuskrip itu yang memberikan keterangan waktu. Waktu selalu ditunjukan dengan memakai simbol2 penanda waktu alamiah. Seperti matahari, menstruasi, posisi bintang dan kulit pohon. Sepertinya matematika memang diciptakan hanya untuk ras kaukasoid. Kisah dalam manuskrip yang ke-8 ini adalah kisah yang paling tidak masuk akal. Dengan anggapan bahwa pada masa itu hal-hal yang tersebut wajar terjadi. Hanya inilah satu-satunya manuskrip yang mengaitkan tokoh utama laki-laki dengan Gunung Tangkuban Perahu. Meski justru hanya manuskrip ini yang tidak menamai tokoh utama laki-lakinya, sementara ke-12 manuskrip lainnya justru memberikan nama pada tokoh utama laki-lakinya yaitu SANGKURIANG. Tangkuban Parahu memang harus menjadi bagian dari unsur cerita sebab ada sebuah tradisi yang memberikan asal-usul pada sebuah bentuk morfologis permukaan bumi, atau artefak artefak, yang dianggap ganjil. Atau disugestikan ganjil. Seperti kebanyakan cerita rakyat di Indonesia, selalu menghubungkan cerita-cerita tersebut dengan sebuah fenomena alam atau sebuah obyek alam yang ganjil dan dianggap sakral. Runutan cerita lebih terpola. Pada masa itu sastra kontemporer belum ditemukan. Romeo and juliet (yang diciptakan puluhan abad kemudian setelah naskah ini ditulis) jadi tampak sangat kontemporer. Keutuhan narasi dan bentuk-bentuk huruf yang konstan. Dan ini yang paling penting, kisah dan alur dalam manuskrip ke-8 adalah yang paling mirip dengan cerita lisan versi terakhir yang sudah menjadi pengetahuan umum pada masa itu saat manuskrip ini ditemukan.” Lelah… lelaki tua itu menghirup kopi tubruknya yang mulai mendingin dibuai angin. Sebenarnya sudah lama sekali lelaki tua ini ingin membuang jauh-jauh gelar Doktor dalam bidang Sosio-Historisnya. Memuakkan, gelar itu menyebabkan saya ingin muntah setiap kali mengingat masa-masa saya membuat desertasi tentang cerita sejarah mengenai kondisi masyarakat agrikultur Sunda pada abad ke-6. Huruf sanskrit itu, semua orang juga tahu, berasal dari India dan hanya mengintervensi Jawa dan, tolong tekankan, BUKAN SUNDA. Kalaupun memang Orang Sunda sudah mengenal tulisan maka bentuk hurufnya adalah lebih menyerupai huruf paku dan bukan Sanskrit. Dan itupun bisa saya pastikan, huruf-huruf itu hanya dipakai untuk perdagangan dan kegiatan-kegitan formal kerajaan, deklarasi, perjanjian dan undang-undang. Bukan sastra. Ingat! BUKAN SASTRA. Mengerikan… bagaimana ketika semua orang mempercayai Belanda bahkan hingga kini… hingga saat Belanda sudah hengkang puluhan tahun lalu… Kembali aku memandanginya, memandangi kerut-kerut dimukanya, daki yang sudah menempel puluhan tahun dimukanya, racauan schizophrenic-nya yang berulang-ulang, rambutnya yang menggimbal, bau tubuhnya yang seindah tumpukan sampah sore hari di pasar-pasar. Dia terus meracau di sini, di jembatan ini, di sebelahku, dengan mata tajam dan liar, dan selalu terus menerus memandangi Gunung Tangkuban Parahu yang menjulang di utara dan seolah ikut menangis bersama tokoh legendanya (yang dia yakini sebagai leluhurnya), di sore hari penuh debu. Lantas dia mengucapkan kalimat terakhirnya sebelum dia pergi, karena berdiri sambil membenahi tubuhnya dan tas karung terigunya yang entah berisi apa, sambil menyodorkan selinting bako mole yang baru dibuatnya (sepertinya memang sengaja dibuat untukku) padaku, dan ini kali pertama dia memandangku, hangat tetapi tajam; “Aku selalu bertanya, anak muda! Apa benar Gunung itu,” dia menunjuk Tangkuban Parahu, “adalah monumen keputus-asaan, kekecewaan, dan kemarahan Sangkuriang yang sengaja diciptakan agar kesakitannya diingat oleh orang-orang di masa depan? Itu PR buatmu, Anak Muda! Sebab sebentar lagi aku akan mati.” Aku tidak bisa menjawab. Seribu kebijaksanaan tiba-tiba menyeruak dalam tubuhku dalam diam yang panjang, membisu, menatap mata lelaki tua itu yang sedang mentransfer energinya berupa aura yang bertubi-tubi menyerbu tubuhku dan kepalaku, sebuah aura yang menyadarkanku akan kesimpangsiuran sejarah. Sejarah yang mana yang harus kupercayai? Lantas aku menyaksikannya pergi melangkah menuju Dago Utara dengan baju rombengnya yang berkibar-kibar tertiup angin berbau bako mole dan asap knalpot bis kota. ***

Bagian Kedua

Dayang Sumbi, Stigmata Sangkuriang, dan Gateaux-lotjo

Seluruh kejadian dalam bagian kedua ini terjadi dalam sebuah auditorium berbentuk kubus dengan dinding dan langit-langit serta lantai berwarna hitam kira-kira seukuran lapangan Futsal. Dan akan diawali dengan pengenalan salah satu tokoh sentralnya yaitu Gateaux-lotjo. Tapi kali ini saya akan menceritakannya dari sudut pandang saya sendiri, sebab saya ada di tempat kejadian dan mengenal dekat para tokoh yang ada dalam cerita ini. Dia selalu begitu; memicingkan mata, menggertak dengan kata-kata sinis seperti, “Aku tak suka cantikmu yang mengerikan itu!”, tersenyum, berkedip lalu pergi. Dia, lelaki yang selalu memperkenalkan diri dengan nama Gateaux-lotjo itu, selalu begitu; mengejan, mengerang, menyembunyikan sebagian wajahnya, berteriak santun: “Aku berharap semua tidak baik-baik saja!”, lalu turun dari “tugu sialan!” itu. Dia sendiri yang selalu menjuluki singgasananya dengan “tugu sialan!”, selalu memakai tanda seru. Ada lambang hegemoni dan birokrasi di tugu itu, dia sangat tidak menyukai kedua hal itu. Akan tetapi hanya tugu itulah yang paling tinggi yang bisa ia naiki untuk lantas berteriak dan dilihat semua orang dari berbagai arah. Dia sangat membenci angin. Angin adalah bentuk manifestasi kekurang ajaran semesta. Meraba-raba tubuh kita tanpa permisi, diizinkan ataupun tidak, tak bersyarat, bebas absolut, dengan tanpa gairah sekalipun. Angin akan datang tiba-tiba, meski tidak terlalu kencang, tapi tetap akan menyusup ke dalam kulitmu, membuatmu merinding, membuatmu kedinginan, kadang membuatmu mendapatkan kenyamanan bersyarat. Dia sangat suka berdebat, apalagi perdebatan tentang Cinta, Agama dan Filsafat. Inilah satu-satunya kelebihan yang dia punyai. Bila Kundera pernah berkata: perjuangan terbesar manusia adalah untuk menguasai telinga orang lain. Maka dia sudah mencapai puncak kekuasaannya bila dia berdebat atau monolog dengan siapapun. “Namaku Gateaux-lotjo!” Suatu kali dalam sebuah kelembapan cuaca yang sangat dipengaruhi oleh bekas luka para hujan yang tercurah sederhana dari gelembung awan-awan lebat. Tentu, dia mengatakannya dalam kesungguhan yang dibuat-buat sambil menengadah ke langit dan menepis beberapa angin. Menengadah ke arah para hujan tadi yang cukup membuatnya kuyup. “Aku bukan lelaki, sebab aku yakin penisku bisa hidup sendiri tanpa harus diperintah oleh otakku dan diberi nutrisi oleh pacu jantungku. Dia bahkan bisa berdetak lebih kencang dari jantungku pada saat-saat yang seharusnya tenang. Penis punya organ tubuh sendiri yang diperintah oleh otaknya sendiri…” Setelah itu dia menyusun dirinya dalam kesendirian genit yang mengundang cinta dan kebebasan untuk segera datang padanya, bersujud dan memohon untuk dilibatkan dalam semua orasinya. * Arahmaiani yang memakai kebaya modern dengan potongan lahak di punggung dan dada di depan 300 orang lebih penonton membuka kebayanya dan hanya memakai sarung, stagen dan bra. Lantas dia meminta penonton untuk memperlakukan tubuhnya sekehendak penonton dengan memberikan tiga sepidol besar. Satu-persatu penonton maju ke depan, menuliskan apapun yang ada di benak mereka ke tubuh setengah telanjang Arahmaiani. Ada yang menggambar bayi di perut Arahmaiani, ada yang menuliskan “Apakah ini perempuan, bukankah ini wanita?” di punggungnya dan banyak lagi yang lebih provokatif dari itu. Hingga seluruh tubuh dan wajah Arahmaiani dipenuhi coretan seperti dinding toilet di sekolah-sekolah atau kampus-kampus yang dipenuhi caci maki para hooligan hingga pernyataan cinta antar gay dan bahasa-bahasa kotor lainnya. Ketika pertunjukan masih berlangsung, tiba-tiba Gateaux-lotjo yang memakai baju bengkel terusan berwarna biru dengan topi bulu khas orang-orang Kozak di Rusia yang menutupi telinga untuk melindunginya dari terpaan angin dingin –hal ini membuat profilnya jadi mirip anjing bulldog– menggonggong, meneriaki penonton dengan gonggongan keras dan lari seperti anjing ke arah Arahmaiani berdiri. Dia mencoba menggigit siapapun yang mencoba mendekati Arahmaiani. Gateaux-lotjo secara tidak sadar sedang menyusun dirinya menjadi Si Tumang, atau bahkan mungkin terasuki roh Si Tumang dan mencoba melindungi istrinya, Dayang Sumbi, dari gangguan orang-orang dan tentu saja target utamanya adalah Sangkuriang, kalau memang saat ini Sangkuriang ada disini, sebagai salah satu manifestasi balas dendamnya gara-gara dipanah di masa lalu. Sangkuriang, sang tokoh sentral atau yang selama ini menjadi satus quo sebagai tokoh sentral dalam ceritanya sendiri, sedang dicaci maki dan diprotes habis-habisan oleh Arahmaiani sebagai bentuk wacana feminisme yang selalu diteriakan dalam setiap pertunjukannya. Sangkuriang sebagaimana cerita feodal lainnya adalah bentuk manifestasi kekuasaan lelaki yang dicoba-masukan kedalam benak setiap orang selama berabad-abad melalui metode Ideological State Aparathus yang dilakukan oleh aparat-aparat masa lalu untuk melanggengkan kekuasaan laki-laki atas perempuan. Arahmaiani mencoba untuk menentang terhadap status quo ini tentu saja. Tanpa perlu kuratorial yang rumit, judul pertunjukannya sudah menjelaskan hal itu. Tentu saja bila Sangkuriang hadir saat ini dia akan ke atas panggung pertunjukan mencoba untuk menghentikan ibunya yang menjelma Arahmaiani tersebut, sekalian untuk melampiaskan dendamnya karena ditipu di masa lalu sehingga dia tidak jadi menikahinya dan menendang perahu yang dengan susah payah dia bangun. Perahu rumah tangga yang gagal. Sebagian dari diriku tidak pernah menyalahkan Sangkuriang saat ingin menikahi ibunya. Bagaimana tidak, saat itu konon Dayang Sumbi meminum ramuan awet muda sehingga dia masih tampak muda saat bertemu kembali dengan Sangkuriang. Dan tentu sangat wajar bila Sangkuriang tidak percaya bahwa dia adalah ibunya, apalagi dengan adanya fakta bahwa ketika Sangkuriang diusir oleh ibunya waktu kecil ketika mengetahui Sangkuriang memanah suami anjingnya bernama Si Tumang, dengan cara dipukul kepalanya hingga mengalami amnesia. Mana Sangkuriang ingat siapa ibunya kalau begitu! Dayang Sumbi aja yang teramat bodoh sehingga tidak mengurai fakta2 ini. Maaf jadi mencaci! Tapi ini memang fakta! (haha…tampak lucu mengatakan fakta pada sebuah cerita legenda) Yah, wajarlah bila di kemudian hari Sangkuriang masih merasa dendam terhadap Dayang Sumbi yang mengkhianatinya. Hal inilah yang menyebabkan si tumang yang menjelma Gateaux-lotjo maju ke atas panggung untuk melindungi istrinya dari serangan orang-orang yang mungkin salah satunya adalah jelmaan Sangkuriang. Terjadi kepanikan luarbiasa saat itu. Hal yang diluar dugaan itu membuat suasana menjadi tegang, karena Gateaux-lotjo mengamuk seperti anjing terkena Rabies. Hingga datanglah seorang lelaki muda bernama Niskala mencoba menenangkan anjing itu. Tapi Gateuxlotjo terus menggonggong dan menyerang Niskala dan nyaris menggigit Niskala. Penonton panik dan sebagian berhamburan keluar. Arahmaiani diam memaku dan pucat pasi. Tak ada satu orangpun yang berani menenangkan Gateuxlotjo lagi setelah itu. Tiba-tiba Niskala meniru gerakan arjuna, seperti seolah sedang mencabut anak panah di punggungnya dan mengarahkan busurnya pada Gateauxlotjo. Saat inilah gonggongannya terhenti, melangkah mundur sambil menguik. Niskala masih mengarahkan busur-purapura-nya pada Gateuxlotjo dan lantas anak panah terlepas menancap tepat di jantung Gateauxlotjo. Gateauxlotjo pingsan seketika. Penonton mulai tenang. Suasana perlahan kembali normal. Pembukaan pameran dilanjutkan setelah Gateauxlotjo diamankan ke belakang panggung bersama Niskala. Panitia pameran menyangka bahwa kejadian tersebut adalah ulah kedua orang itu untuk mencuri adegan yang memang seringkali terjadi di Bandung. Biasanya panitia tidak pernah menghentikan apabila ada kejadian seperti itu, tapi kali ini memang berubah menjadi kekacauan. Bahkan Arahmaiani, yang menjadi bintang tamu saat itu, sempat mengalami shock dan menjerit-jerit sambil berusaha menahan bra-nya karena ada sekelompok orang yang ingin memanfaatkan suasana dengan menarik-narik pengait bra-nya. Serta ada seorang seniman muda yang mencoba mencuri artefak perfomance itu, yaitu kebaya Arahmaiani, tapi keburu ketahuan oleh salah seorang panitia pembukaan pameran, dengan malu-malu, seniman muda itu menyerahkan kembali kebaya Arahmaiani itu. Di belakang beberapa orang sempat terbawa emosi dan hampir memukuli biang keonaran ini, yaitu Gateaux-lotjo dan Niskala, karena beberapa diantara mereka tahu bahwa kejadian tadi bukan bagian dari performance yang ingin dipertunjukan Arahmaiani. MC terus berteriak-teriak berusaha menenangkan kepanikan ini, meskipun sebenarnya sebagian besar dari penonton malah tenang-tenang saja dan banyak diantaranya malah tertawa-tawa dan menganggap bahwa ini adalah pertunjukan yang paling lucu beberapa tahun terakhir ini dalam sebuah Performance Art setelah muntahnya seorang seniman performance pada saat mencoba menelan Bendera Merah Putih dalam Festival Perfomance Art Internasional beberapa tahun lalu di Yogyakarta. Di backstage, Niskala tertawa sambil mencoba membangunkan Gateaux-lotjo. Setelah ini terjadi sebuah percakapan serius dan mistis diantara kedua orang ini mengenai stigmata mereka tadi. Esoknya, Gateaux-lotjo kembali ke galeri tersebut. Memandangi patung Dayang sumbi yang sedang menitikan air mata karya Herra tersebut. Dan dia mulai bermonolog dengan patung itu. Sepertinya ini adalah monolog pertamanya pada benda mati. Istriku…kau masih mengingatku? Tadi malam ketika kau diganggu puluhan manusia biadab, termasuk anak kita, sungguh…aku benar-benar naik pitam. Aku tak bisa menahan emosi ketika kau diperlakukan sedemikian kejamnya. Patung ini, yang menurut senimannya adalah patung replika pertama untuk patung batu Dayang Sumbi yang ditemukan tujuh tahun lalu di sebuah gua yang terkubur ratusan tahun di Daerah Dago Utara dalam sebuah penggalian untuk proyek perumahan. Patung Dayang Sumbi tersebut, yang sudah banyak cacat di sana-sini diperkirakan dibuat pada abad ke 12 pada zaman pemerintahan Sri Baduga Maharaja. Ada pahatan Dayang Sumbi dengan huruf paku pada kakinya. Profile muka dan bentuk tubuhnnya mendekati kecantikan ideal perempuan sunda. Sekarang patung tersebut menjadi milik pemerintah dan masih diteliti oleh para ahli sejarah di Museum Geologi di JL. Diponegoro. Herra, atas izin pemerintah, membuat replikanya dengan melakukan penyempurnaan pada bagian yang cacat dan mempercantiknya dengan sentuhan-sentuhan yang lebih halus dan menurutnya ini lebih mudah sebab dia membuat replikanya dalam media kayu mahoni yang sudah direndam selama satu tahun dalam cairan kimia khusus untuk membuatnya lebih lunak dan pada tahap finishing dia menyemprotnya dengan cairan lain yang membuatnya lebih kuat dan awet hampir mendekati karakter batu. Pameran ini dimaksudkan untuk lebih mendekatkan masyarakat pada cerita rakyat tersebut dangan bantuan dana yang besar dari pemerintah. Ini adalah pameran pertama Herra yang mendukung propaganda pemerintah tentang cerita sejarah. Sungguh ironis, sebab tadi malam performance Arahmaiani justru menyerang pemerintah dengan kritik Feminis dalam performance art nya. Meskipun sempat terjadi insiden, tetapi begitulah kebiasaan Performance Art di bandung, akan banyak sekali orang yang ingin tampil dan mencuri adegan apabila performance tersebut melibatkan interaksi audiens. Saat ini ruangan sedang sepi, hanya ada gateuxlotjo, artefak performance art tadi malam dan patung replika Dayang Sumbi. Dialog mereka terjadi selama hampir dua jam hingga satpam yang tadi malam mengamankan mereka datang dan mengenali Gateaux-lotjo lantas mengusirnya untuk segera keluar dari ruangan itu. Entah kenapa, dengan patuh Gateux-lotjo keluar nyaris tanpa perlawanan.

Bagian Ketiga

Lelaki Tua, Sebuah Gua Tak Terjamah dan Sekelompok Pemuda Yang Tak Mau Disebutkan Identitasnya

Pencurian itu dilakukan dengan penuh perencanaan yang matang. Ketika semua orang mendatangi pembukaan pameran patung di CCF, patung aslinya yang masih disimpan di museum geologi tidak terlalu dijaga ketat malam itu. Dia, menurut pengakuannya sendiri pada saya beberapa hari setelah kejadian ini, bersama beberapa teman yang sudah merencanakan ini berbulan-bulan yang lalu, mengendap-endap mendekati ruangan museum. Cerita ini asalnya tidak akan saya ceritakan dalam bagian fiksi ini, sebab ada semacam sebuah perjanjian antara saya dan para pelaku dalam kejadian ini untuk merahasiakan seluruh kejadian. Tapi dengan niat yang tulus akhirnya saya minta izin kepada mereka untuk menuliskan kejadian spektakuler ini dengan alasan sangat sayang apabila hanya terkubur dalam sebuah rahasia yang tidak perlu. Dengan berat dan penuh ancaman akhirnya mereka mengizinkan asal tidak menyebutkan nama ataupun inisial mereka serta tempat dimana patung itu akhirnya disembunyikan. Saya menyetujuinya, dan sesuai perjanjian tadi saya hanya akan menceritakan proses pencurian itu hingga akhirnya mereka berhasil mendapatkan (kembali) patung itu. Dan menyimpannya di tempat yang menurut mereka adalah “tempat seharusnya”. Setelah berpikir berkali-kali tentang bagaimana cara saya menceritakan kejadian ini akhirnya saya memutuskan untuk menyusunnya dalam sebuah kronologi menjadi semacam bahan untuk rekonstruksi: Tiga orang pemuda berkumpul di sebuah warung makan yang tak jauh dari museum geologi tersebut Empat pemuda lainnya menyusul dengan menyamar memakai baju pegawai negeri. Mereka mengobrol di warung tersebut dan seperti seolah antara kelompok pemuda pertama saling tidak mengenal kelompok pemuda yang kedua. Seorang wanita memakai rok pendek dengan atasan blazzer turun dari sebuah mobil BMW dan mendatangi kelompok pemuda yang pertama Empat pemuda yang memakai setelan pegawai negeri menyeberang dan memasuki pagar kompleks museum geologi. Salah satunya terlihat mendatangi satpam dan seperti sedang membicarakan sesuatu. Satpam meraih rokok yang ditawarkan pemuda itu Satpam pertama pingsan, terkena zat yang ada dalam rokok itu. Satpam kedua yang baru datang dari toilet mencoba menolong temannya, tapi dengan cekatan sekelompok pemuda tadi memukul belakang kepala satpam kedua. Ternyata satpam kedua tidak langsung pingsan, dia malah melawan…

bersambung…

Bagian Tiga: Labirin Hitam Di Bawah Matanya

June 25th, 2006 by samanthaschool

Para penata gaya, seperti tukang cukur, fashion designer, pekerja salon, beauty consultant dan manikuris adalah sebagian dari sekian banyak orang yang paling memenuhi kategori sebagai manusia-manusia yang dimaksudkan Nietszche dalam ungkapannya tentang “memberikan gaya” pada karakter seseorang adalah sebuah seni agung dan langka. Meski kemudian Nietszche menulis lebih kepada wacana penokohan baik dalam seni peran maupun psikologi manusia. Perkembangan mode yang begitu pesat jelas telah melahirkan banyak penata gaya dengan beribu terobosan baru, dari mulai make-up yang mendampingi mode pakaian hingga perombakan pada tubuh manusia itu sendiri seperti implantasi yang tidak ditujukan untuk penyembuhan dan kesehatan, bahkan juga merasuk kedalam wilayah fantasi futuristik, misal: wacana post-human, film The Matrix atau model-model anime dari Jepang. Menata gaya adalah sebuah seni yang agung dan langka, ya seperti yang pernah saya ketahui ketika menatap mata seorang wanita begitu dalam, saya pikir juga itu sebuah senia agung dan langka. Disana ada keindahan, spekulasi, imajinasi dan mungkin dosa pertama. Suatu ketika saya bertemu dengan seorang beauty consultant sebuah merk alat kecantikan dalam sebuah pertunjukan fashion. Saat itu saya diajak oleh seorang teman yang kuliah di Jurusan Tata Busana untuk menjadi model gratisan dalam pertunjukan fashion yang memperagakan karya-karya tugas akhirnya. Sebuah perusahaan make-up yang cukup terkenal selalu tak mau ketinggalan menjadi sponsor untuk acara-acara seperti ini. Kompensasinya biasanya berupa alat-alat make up dan beberapa perias mereka untuk merias para model. Dan mereka mendapat keuntungan dari promosi berupa pamflet, leaflet dan spanduk yang mencantumkan logo perusahaan mereka di sudut kanan bawah dengan ukuran 4 x 4 cm. Kali ini mereka mengirimkan 3 orang perias dengan jabatan Beauty Consultant (BC) 2 orang dan Coordinator Beauty Consultant (CoBC) seorang. Di ruang rias, setelah mengantri dengan puluhan model gratisan lainnya yang tentu saja tidak secantik dan se-pede model-model professional, akhirnya saya mendapat giliran untuk didandani. Ada empat kursi rias didepan meja rias panjang dan sebuah cermin besar di ruang rias gedung pertunjukan tersebut. Satu kursi rias ditangani oleh seorang perias. Saya mendapat kursi yang ditangani CoBC. Ada beberapa kebiasaan beberapa orang ketika sedang didandani yaitu mengobrol. Saya adalah salah satu dari beberapa orang yang memang sangat suka bicara, bahkan ada seorang teman yang menyangka saya mempunyai sindrom asperger, dan tentu saja mengobrol adalah bagian dari suka bicara itu. Terus terang, CoBC itu, yang kemudian saya mengenalnya dengan nama Illana (bukan nama sebenarnya), sangat cantik, dan saya berpikir saat itu ia lebih cocok sebagai model ketimbang Penata Rias. Dan tentu saja kecantikannya mengundang saya untuk bertanya dengan serbuan basa-basi yang biasanya berhasil menarik perhatian wanita manapun. “Sudah punya anak berapa, Mbak?” tanya saya sambil memandang lekat wajahnya yang saat itu hanya berjarak beberapa senti karena dia, dengan sangat detil, sedang mengulaskan kuasnya di kelopak mata saya yang saya minta agar dibuat hitam berkesan gotik. Dia tertawa dan memandang anak buahnya yang berada di sebelahnya sedang mendandani model-model lainnya. Setelah itu dia menjawab pertanyaan saya dengan mengalihkannya pada anak buahnya, seolah-olah saya tidak ada disana. “Rien, aku barusan ditanya sudah punya anak berapa? Haha… emang aku kelihatan begitu tua ya?” katanya pada BC yang kemudian kuketahui bernama Vina (juga bukan nama sebenarnya). “Ya ampun, masa sih, Bu? Aku aja dulu menyangka Ibu umurnya dibawah saya.” Jawab Vina yang wajahnya justru tampak seperti anak kecil. Saya hanya memandangi mereka yang meneruskan obrolan diseputar wajah mereka. Tampaknya setelah itu saya tidak digubrisnya lagi. Setelah selesai mendandani saya, wanita itu memanggil model selanjutnya. Lalu sambil lalu saya bertanya padanya dengan nekad. “Boleh saya tanya lagi? Mbak sudah punya anak berapa? Kok saya dicuekin terus?” Sambil tetap tertawa seperti tadi dia menjawab, “Penting ya untuk saya jawab?” “Penting sekali, sebab jawaban Mbak akan menentukan apakah saya akan minta nomor telepon Mbak atau tidak.” Jawab saya sambil mendekat lagi padanya. Model cewek yang akan dirias selanjutnya memandangku dengan pandangan males. “Temui saya setelah pertunjukan disini, sekarang sebaiknya kamu show dulu, entar dimarahin koreografer.” Katanya dengan nada sok misterius. Terus melirik anak buahnya dengan seolah ada kedipan sebelah mata disana. Saya menyadari, ada begitu banyak hal yang menarik ketika dia mendandani saya, atau kalau boleh kupinjam istilahnya, melukis di atas kanvas muka kamu. Saat ini saya sudah menjadi mantan suaminya, kejadian tadi berlangsung kira-kira dua setengah tahun yang lalu, dan itu adalah sebuah momen yang tidak mungkin saya lupakan. Hal-hal menarik itulah yang kemudian membawa saya terbuai kedalam semua hal yang berkaitan dengan dirinya, profesinya, kepalanya, bentuk tubuhnya, payudaranya, tertawanya dan tentu saja vaginanya yang saya masuki saat kencan pertama kami di sebuah hotel berbintang yang mendadak kami masuki sebab ada sesuatu yang mendesak yang kami enggan untuk mengatakannya satu sama lain, memang begitu kejadian aslinya, ini fakta. Tapi maaf bila saya menyamarkan namanya dan semua orang yang nanti saya akan ceritakan. Sebab ini bukanlah karya jurnalistik, saya tetap akan menyebutnya sebuah karya fiksi yang diangkat dari kejadian nyata, tapi sama sekali bukan adaptasi, detil-detil yang saya sebutkan memang benar-benar ada dan terjadi. Saya juga tidak akan mengatakan ini sebuah cerita pendek, sebab cerita ini akan lebih rumit daripada hanya sekedar cerita pendek yang memiliki pakem-pakem dan aturan-aturan yang ketat, hal ini berlaku terutama untuk cerpen-cerpen koran atau atau beberapa kelas sastra kertas, tentu saja gerakan sastra independent yang membuat media kertas tidak termasuk di dalamnya. Saat itu, saat didandani saya menemukan sebuah perasaan yang sama sekali baru bagi saya, saya tahu bagaimana rasa cinta, tapi ini lain, mungkin lebih pada rasa kagum dan penasaran yang digabungkan menjadi bentuk obsesi yang sama sekali beda dengan obsesiku ingin tidur dengan Ag*** Mon*** (nama ini juga harus disamarkan karena saya takut tulisan ini suatu saat benar-benar dimuat di media umum dan dibacanya, tahu sendiri kan kecenderungan selebritis, sekalinya ada masalah, langsung main polisi dan pengacara, belum lagi pekerja infotaintment, saya tidak mau menyebut mereka wartawan, karena saya sebagai lulusan Sekolah Jurnalistik sangat tahu seperti apa itu wartawan, dan mereka sama sekali tidak memenuhi kategori sebagai wartawan). Saya terus saja memandangnya lekat ketika dia bercakap-cakap dengan anak buahnya. Saya memandangi matanya yang tampak profesional memberikan polesan pada seluruh wajah saya, tangannya yang begitu terampil melukis wajah saya, gerak tubuhnya yang menurut saya waktu itu sangat libidinal, seolah ingin diajak tidur malam ini juga, wajahnya yang cantik keibuan, parfumnya yang mungkin adalah jatah dari kantornya. Harum tapi bisu, menurut saya, sebab dia tetap menganggap saya seolah tak ada, seolah benar-benar sebuah kanvas yang tak hidup. Sesekali dia bersenandung. Dan entah kenapa saya benar-benar tidak bicara setelah pertanyaan tadi, tidak seperti biasanya, saya juga heran. Saya terus membisu sambil terus memandang lekat wajah dan pekerjaannya. Proses melukis itu kira-kira menghabiskan waktu 10 menit, padahal cowok-cowok yang lain hanya memakan waktu 4-6 menit. Mungkin karena saya meminta agak berbeda, agak lebih dandan ketimbang yang lain. Ketika pertunjukan fashion dimulai, jelas saya tidak menemukan wajahnya ditengah kerumunan penonton yang bersorak-sorai karena saya pikir dia masih di ruang rias bergosip dengan anak buahnya. Saya mengalunkan kaki yang sejak seminggu lalu dilatih keras oleh koreografer sebab sekali lagi saya bilang bahwa saya bukan model profesional. Bahkan saya sempat menolak baju yang akan dipamerkan untuk saya pakai sebab saya pikir itu tidak sesuai dengan jiwa saya. Jelas bahwa seorang model profesional tidak akan melakukan hal itu. Ada semacam aturan bahwa seorang model profesional tidak boleh menolak pakaian model apapun yang ditawarkan oleh perancang bajunya. Sempat ada perdebatan sengit antara saya dengan sang perancang baju, teman saya itu, hingga akhirnya dia menyerah dan membebaskan saya memilih baju. Kebetulan saya waktu itu sedang menyukai wilayah musik yang gotik-androgin, saya mencari pakaian model rok terusan dengan dominasi warna hitam dan perak, anehnya saya menemukannya. Teman saya, perancang baju itu, awalnya tertawa karena baju itu dirancang untuk wanita. “Masa sih loe mau pake baju itu? Dasar orang gila!” katanya. Tapi saya cuek dan bilang pada dia bahwa ini sesuai dengan jiwa saya. Bahwa laki-laki juga diciptakan untuk menjadi indah seperti wanita. Pokoknya setelah itu dia males untuk mendebat saya lagi. “Terserah loe deh…!” katanya sambil menggelengkan kepala dan berlalu untuk memberikan instruksi pada model-model yang lain. Serangan berikutnya muncul dari mister koreografer Ernie (jelas bukan nama sebenarnya, dan bukan pula nama bancinya) yang jelas-jelas lebih menyukai model-model cowok yang macho ketimbang model kurus dan androgin seperti saya. Pandangan benci-bancinya terarah straight ke muka saya ketika saya memakai baju itu. “Yey tu gila deh bo…itu kan baju banci nek, ntar yey jalannya mau gimana dengan model baju kayak gitu, dasar lekong bencong…” katanya. Saya malah tertawa. Dan dia makin benci sambil mikir tujuh keliling untuk menemukan koreografi yang tepat untuk saya. Tapi yang pasti akhirnya Ernie menemukannya. Dan saya jelas menolaknya keras-keras. “Gak, loe pikir gue banci, gaya androgin kayak gini itu lebih tepat kalo jalan gue justru cowok banget. Loe pernah liat Placebo gak kalo manggung. Dasar banci tampil!” kata saya. Dia jelas kaget saya memarahinya seperti itu. Tapi dia tetap akhirnya melatih saya dengan koreografi yang saya tawarkan. Jadilah saat ini, saat pertunjukan ini dimulai. Saat semua penonton bertepuk tangan bengong melihat penampilan saya. Setelah pertunjukan selesai, Illana sudah tidak ada di backstage, kata salah seorang BC-nya dia sudah pulang duluan, ada urusan keluarga. Tapi dia menitipkan no ponselnya. Seminggu setelah itu saya menelponnya, entah kenapa saya begitu lambat hingga memerlukan waktu seminggu untuk menelpon dia, saya lupa. Pertemuan saya berikutnya dengan Illana adalah setelah saya menelpon dia dan dia ternyata masih mengingat saya. Untunglah! Kami akhirnya berhubungan sex untuk pertama kalinya di pertemuan petama itu. Di sebuah Hotel Bintang empat di Jalan Dago. Kamar no. 314. Tak akan pernah saya lupakan. Kami berpisah setelah dua tahun kami menjalani bahtera perkawinan yang segala ritualnya saya buat sendiri, tidak memakai ritual agama manapun, tapi ritual saya sendiri di Hotel itu saat pertemuan pertama kami. Entahlah, tapi sepertinya dia percaya dengan ajaran saya. Tapi dua tahun kemudian dia meminta cerai, dengan alasan dia harus kembali ke realitas. Pekerjaannya menuntut dia untuk tetap berada dalam realitas. Menjadi penata gaya dalam sebuah perusahaan besar menuntut realitas lebih banyak ketimbang romantisme, begitu menurutnya. Tapi menurutku kami bercerai karena dia menggugurkan bayi pertama kami tanpa memberitahu saya, dan hal ini pun baru saya ketahui dua bulan setelah perceraian kami saat sebuah surat undangan dia serahkan pada saya langsung. Undangan pernikahan dia dengan seorang model cover sebuah majalah wanita dewasa. Saat itu dia meminta saya bertemu di sebuah cafe di Jalan Dago. Dan dia menceritakan semuanya, semua tentang proses pengguguran itu. Saya marah, saya menangis dan saya mulai mendandani diri saya sendiri, mengimitasi semua gayanya saat dia mendandani saya pertama kali. Benar-benar berdandan. Dia langsung pergi pada saat kemarahan saya meledak. Dia tidak tahu bahwa setelah itu saya menangis. Pulang dan berdandan. Saya tidak tahu saat itu untuk apa saya berdandan, mengimitasi semua gayanya saat mendandani saya pertama kali. Tapi hal itu cukup membuat saya tenang dan mengiris seluruh kenangan dengannya. Itu saja! Sebab beberapa hari kemudian saya mulai mengencani seorang wanita 35 tahun, stylist sebuah salon di Jalan Dago. Bercinta. Orgasme. Pulang. Besoknya saya mengencani seorang fashion designer sebuah perusahaan baju di Jalan Dago. Makan malam. Bercinta. Orgasme. Pulang. Esoknya lagi saya berkencan dengan seorang jurnalis fashion sebuah majalah fashion indie di Jalan Dago. Belanja. Meliput sebuah acara fashion. Makan malam. Tidur di kost-annya. Bercinta sampai kami benar-benar kehabisan tenaga. Tidur nyenyak. Dia membangunkanku dengan sebuah ciuman. Menyatakan sebuah perasaan cinta dengan halus. Saya enyah saat itu juga. Pulang ke rumah. Tidur. Dan terus-menerus seperti itu. Entah kenapa tiba-tiba saya jadi sangat terobsesi untuk bercinta dengan para penata gaya, setiap malam, setiap saat, dan mendepak mereka secepat keluarnya sperma dari tabung keheningan saya. Tabung kebencian saya. Tabung kerinduan saya akan seorang anak. Seorang anak yang setiap gayanya selalu ditata oleh kedua orang tuanya. Anak yang digugurkan Illana. Saya tentu saja datang ke pernikahan Illana. Sebuah gedung di Jalan Dago. Sepi sekali. Seorang penjaga gedung itu mengatakan bahwa pernikahannya batal. Pengantin wanitanya kabur dengan mobil saat akad nikah akan dimulai. Beberapa menit kemudian telepon selular saya menjerit dengan nada tangisan bayi. “Halo, Ervin?” suara Illana, menangis. “Ya?” “Kamu dimana?” “Di nyaris pesta pernikahanmu.” “Temui aku, segera, cafe ohlala, please!” “Ok, aku segera kesana!” Setengah berlari, menuju angkot, 15 menit, Illana dengan pakaian lengkap pernikahan adat Sunda, berlapis air mata, make up yang luntur membentuk aliran berwarna hitam di bawah matanya. Totally Sadly Runaway Bride! Aku memeluknya. Illana menangis tersengguk-sengguk di bahu saya. Tenang…tenang…sayang…! nyaris berbisik di telinganya. “Ervin, aku masih sangat mencintai kamu! What the fuck dengan segala macam realitas, aku bahagia di sisi kamu! Kamu lah realitas aku.” Saya mengelu-elus punggungnya, aku tahu…aku tahu…sayang! “Anak kita, tidak aku gugurkan, aku meminta cerai setelah aku tahu aku mengandung. Aku takut, Ervin, aku takut. Aku takut kalo kamu tidak menginginkan anak itu. Sungguh, aku tidak tahu harus bagaimana waktu itu. Aku sebenarnya tidak ingin membesarkannya sendirian. Tapi aku tidak tahu bagaimana aku harus memberitahumu. Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Aku takut kamu tidak mencintai aku lagi. Aku benar-benar bingung. Bingung, Ervin! Aku masih sangat mencintai kamu! Sampai Bayu datang dan iba lantas melamarku. Dan aku mau sebab aku tidak tahu bagaimana membesarkan anak sendirian.” Lajur hitam seperti labirin di bawah matanya mengarahkan harus kemana air matanya menetes saat itu. Hanya itu! Dan setelah itu aku pergi meninggalkannya sendirian, benar-benar meninggalkannya.

Bandung-Cianjur, Januari-April 2006

Bagian Dua: Dendam, Drugs Overdose dan Samantha

June 25th, 2006 by samanthaschool

Di sebuah malam yang cukup redup, malam yang cukup tenang, malam yang libidinal, di lobby hotel yang penuh kemenangan, penuh ilusi, penuh lenggok padat wanita-wanita anorexia, secangkir coklat panas, secangkir adrenalin panas, secangkir hyper aktivitas jari menekan keyboard laptop dengan Microsoft Word menjadi major, secangkir hutan lebat dalam kepala, secangkir cinta. Seorang gadis dengan muka mannequin menyorotkan matanya tajam ke ujung terdalam jantungku, menyorotkan detak hormon estrogen terbaiknya, dan pheromone yang begitu deras menyertainya, memukul bagian terjauh kesadaranku. Aku berdegup jantan… serta beberapa aphorisma dari Rumi, diiringi ketukan nadi janin di rahim gadis itu. BOOM…!!!

Terjadilah maka terjadilah…

Hanya beberapa bagiannya yang kutahu, matanya, sudut-sudut terlancipnya, dagu belahnya, dan sebentuk tanda lahir 3 senti di bawah pusarnya yang sedang membulat, membalon, serta puluhan gurat singkayo yang begitu mempesonakan persepsi terindahku. Coba perhatikan ini… Samantha Story

Babak I.

Episode I.

Samantha

Samantha berteriak

"Joey…, Joey…, tunggu aku!"

Joey membalas berteriak

"Samantha?

Kau bukan Samantha!

Aku tidak kenal kau"

Samantha bernyanyi

La… la… la…

Joey berkeras

"Kau bukan Samantha

minimal, bukan Samantha yang kukenal."

Juli ’98

Gadis itu mendatangiku…masih dengan sorot mata yang tadi…

"Mau tidur? Murah kok, 200 ribu short time."

Shock!!!

"Ok…dimana?"

"Diatas, lantai 3. ikuti aku!"

"Siapa namamu?"

"Samantha lah, apa lagi!"

"Sorry, terkadang aku butuh basa-basi, butuh foreplay…!"

"Tapi aku capek banget malam ini…ngantuk!"

"Terus, kenapa kamu menawariku?"

"Maksudku, aku terlalu lelah untuk Foreplay. Dan ada sesuatu dalam diri kamu yang aku belum tahu apa itu…"

"Ya udah gak usah kalo gitu, kita ngobrol aja…Aku fine kok!"

"Jangan lah, ini udah resiko pekerjaanku. Aku Ok, asal To The Point." Lantas dia tiduran diatas kasur empuk berbau lelaki yang melayang sebelumku.

"Emang udah berapa tamu yang kamu layani hari ini?" tanyaku sambil menyalakan sebatang Marlboro.

"Udah 8, dari tadi siang."

"Oh.. pantesan. BTW, ini kali pertama lho aku kesini."

"Ngewe?"

"Bukan, "jajan" begini."

"Ah, yang bener?"

"Swear!"

"Terus biasanya gimana?"

"Ya ama cewek, cuman gratisan…"

"Emang hari gini masih ada yang gratisan?"

"Banyak lah, aku kan ganteng. Malah pernah suatu ketika aku yang dibayar." Menyeringai, "Tapi biasanya kebanyakan aku sama pacarku, kok."

"Pacarmu? Kau punya pacar?"

"Entahlah, tapi sebenarnya aku mencintainya, dan dia tidak pernah mempercayai itu…"

"Seperti lagu Trust, The cure??!"

"Yah, mirip2 seperti itu, kau suka The Cure?"

"Hehehe… iya… mengingatkanku akan seorang teman, berdandan seperti Robert Smith."

"Aku juga memiliki teman seperti itu."

Dia memandangku, lekat, langsung ke mataku…

"Mau sekarang?" katanya sambil merebah dan membuka satu persatu pakaiannya, hingga tinggal BH dan celana dalam saja yang melekat di tubuhnya.

"Santai aja dulu…Sebatang rokok lagi." Jawabku sambil menyalakan batang kedua Marlboro di kamar ini.

"See, aku gak bisa turn on kalo pake kondom?"

"Ya udah, buka aja, tapi keluarin diluar ya!!!"

"Ok!"

"Tapi asal kamu tahu, ini kali pertama aku membolehkan tamu tidak memakai kondom."

"Terus kenapa kamu membolehkan aku?"

"Aku percaya sama kamu, disamping aku masih penasaran dengan sesuatu di dalam diri kamu."

"Apa itu? Sudah ketemu?"

"Belum, nanti juga ketemu. Sekarang mending kita mulai lagi aja."

"Ah… lemes banget…" Pengalaman pertama yang aneh

"Aku juga… Eh lihat handphonemu dong…ada kameranya gak?" katanya sambil mengambil mobilephone ku diatas meja disudut kamar.

"Emang kamu mau difoto telanjang?"

"Mau…fotoin dong!"

"Sini…!" Aku meraih HP ku dari tangannya dengan semangat yang aku sendiri belum bisa menerjemahkannya hingga sekarang, kuaktifkan kameranya…

Klik… mukanya… klik… buah dadanya… klik… setengah tubuh telanjangnya… klik… seluruh tubuhnya 3 kali… klik… memory full…

"Yah…aku kan masih pengen di foto."

"Iya nih, memorynya habis, kuisi dengan lagu-lagu dan puisi temanku. Kamu gak takut kalo nanti aku sebarin photo ini di Internet?"

"Justru itu tujuannya, agar kamu sebarin di internet, lumayan publikasi gratis, naikin harga pula. Eh, denger dong puisi-puisi temen kamu itu…! Aku suka lho puisi…"

"Ok!"

"Cara nge aktifin loud speakernya gimana?"

"Tombol sebelah kiri…"

segala yang terurai

menjadi lahir untukku

menjadi mati untukmu

tatkala aku jadi seribu aku

seribu sperma yang merindukan sejuta lelehan lendir panas iblis betina

aku adalah sperma yang menjadi janin

dan menggonggong menjadi anjing dalam rahimmu

rahim para dewi yang bersimpuh di lantai kahyangan

yang menjilati setiap keringat birahi para sesuci

aku adalah sperma terasing

yang akan menjilati setiap dinding-dinding rahim

mencari sel telur telanjang

untuk kuperkosa gairah kemenjandaannya, bergiliran

aku adalah sperma terbuang

menjadi kecoak dalam got-got di setiap sudut matamu

yang akan menyakiti setiap mili keangkuhan detak jantungmu

yang akan membuat vaginamu mengeluarkan lendir busuk peradaban

aku adalah sperma masokis

yang mencari rahim untuk kurasuki ruh kemarahanku

agar mati

agar mati

agar jeruji segera menghantam kebebasan bercintamu

aku adalah batara kala

sperma dewa yang terbuang

yang menjadi raksasa

yang akan segera membinasakan kesuburan rerumputan berharum

diantara selangkangan para bidadari

matilah!

matilah!

aku tidak peduli!

"Wow… puisinya keren banget, dan sepertinya aku sering mendengar puisi itu, dimana ya..? Temen kamu ini penyair ya…jantungku langsung berdetak kencang gini… Merinding dengernya. Dulu aku pernah mendengar puisi yang senada, tapi aku lupa dimana…"

"Sebenarnya bukan penyair sih… Dia anak band…"

"Oh…kayaknya dia dendam banget ya ama wanita?"

"Gak juga sih, entahlah, aku juga dah lama gak ketemu dia. Puisi ini dia kirimin lewat E-Mail, terus ku download ke HP ku. Aku seneng denger suaranya."

"Dia sahabat kamu ya? Namanya?"

"Yup, deket banget, temen waktu di panti asuhan dulu. Aku diadopsi duluan oleh keluarga diplomat gitu deh, jadinya aku bisa keliling2 dunia. Semenjak itu aku jarang banget ketemu dia. Pernah sekali dua kali waktu dia manggung di Jakarta. Aku gak pernah mau ke Bandung lagi. Trauma…"

"Namanya?"

"NISKALA…"

"Niskala? dia temanmu yang berdandan seperti Robert Smith? Oh, Gosh…!!!"

"Udah yuk…?"

"Ok…"

"Oh ya…bayarnya setengah aja, aku gak bagus tadi ngelayanin kamunya. Nanti kamu kesini lagi aja. Tadi dah ku save nomor HP ku di HP mu."

"Bener nih? Gapapa?"

"Ya udah, gapapa, lagian aku gak prof banget tadi, capek banget. Aku mau tidur dulu ya…"

"Ok, thank’s ya… Bye Sam…!"

"Bye Cyan! See ya’…"

Lho, kok dia tahu namaku???

Apakah aku salah, apakah aku salah berdoa untuk mati hanya karena rindu bercumbu dengan Tuhan???

Suara Niskala Ruhlelana menggelegar di telinganya, terbangun, mengumpulkan nyawa…

Ah… dimana aku?

Dimana aku?

Perlahan, sangat perlahan, puzzle-puzzle ingatannya mulai terkumpul…

Gadis itu terbangun dan guprak!!! Tubuhnya terjatuh dari ranjang butut itu, puzzle-puzzle ingatannya membuyar lagi, berantakan, dengan lelah, pusing dan sakit di pinggangnya akibat benturan tadi, gadis itu mencoba mengumpulkan dan menyusun kembali puzzle-puzzle ingatannya.

Aloerotisme

Ya, ya… aku ingat, lagu ini… lagu ini… tapi apa ya…? Kenapa tiba-tiba lagu ini menyalakan sesuatu dalam kepalaku.

Jeritan suaramu itu, menyentak tidur panjangku…

pada bagian lirik yang itu dia mulai menangis. Tapi kenapa aku menangis dengan lirik ini?

Sebuah nama terlintas dalam kepalanya. Nama itu melaju fade in seperti screen saver dengan background gelap dan muncul huruf satu persatu… C… Y… A… N…

C Y A N…!

Dia tiba-tiba menjerit, wajah putih mulusnya memerah, menangis terisak-isak… sebuah suara seorang teman menyeruak dalam ingatannya. Chartreuse, sorry aku menyampaikan kabar ini…

Aaaaaaaaaaaaa……!!! Dia menjerit lagi, semakin menjadi.

Suara itu kembali menggelegar, Cyan, Chart! Cyan meninggal… Chartreuse tidak bisa menahan jeritannya. Ingatannya membanjir, menghanyutkan semua puzzle ingatan yang tadi dia kumpulkan. Dia sudah tak butuh lagi puzzle-puzzle itu. Sekarang semuanya sudah jelas. Dia sedang berada di kamar Cyan, kekasihnya, yang begitu mencintai SID, bahkan sangat fanatik. Semua yang dilakukan Niskala nyaris diikuti Cyan. Album Labirynth of Dream #1 (feat. Borges :) sudah meracuni hidupnya. Semenjak mendengar album itu Cyan mulai kecanduan heroin.

AAAAAAAAA…!!!

Tiga hari yang lalu Chartreuse mendapat kabar itu. Chartreuse menjerit, tak sadarkan diri, terbangun dan menjerit lagi, terus begitu…

Cyan ditemukan meninggal dalam kamar kost-nya dengan jarum suntik masih menancap di urat nadi tangan kirinya. Dan lagu Keranda Mimpi masih menggelegar.

Chartreuse sudah tahu dari awal bahwa Cyan sudah tidak bisa disembuhkan. Bukan hanya darahnya yang diracuni zat-zat kimia sialan itu, tapi juga pikirannya yang diracuni lirik dan gaya hidup Niskala. Pengaruh itu sudah tersimpan permanen dalam setiap sel darahnya. Bahkan semenjak itu Chartreuse sering gak digubris sama Cyan. Dia hanyalah pacar ketiga Cyan. Pacar pertamanya SID, pacar keduanya Heroin. Sebenarnya air mata Chartreuse sudah kering untuk Cyan.

Tiga hari yang lalu setelah mendapat kabar itu, setelah penguburan jasad Cyan, setelah semua prosesi itu selesai, Chartreuse pergi menuju bekas kamar kost Cyan, dia punya kunci cadangannya.

Kamar itu sudah kosong, hanya tinggal tape compo butut dan ranjang yang lebih butut yang masih teronggok di kamar itu, selebihnya sudah ludes digadai Cyan untuk memenuhi kebutuhan kimianya.

Sesampai di kamar itu Chartreuse membaringkan dirinya di ranjang butut itu, ranjang yang dipenuhi ribuan kenangan dia dan Cyan. Ranjang tempat pertama kali ia dibuai Cyan dengan janji-janjinya, diperawani Cyan dengan lembut bahkan tanpa tangisan. Ranjang tempat ia tidur terlelap dipeluk Cyan. Tempat ia curhat dengan Cyan tentang keluarganya. Tempat Cyan menonton video klip SID dan beberapa film dokumenter tentang Niskala saat Cyan masih memiliki TV besar dengan DVD Player dan seperangkat Dolby yang canggih, tempat Cyan terbaring sambil mendengar suara Niskala pujaannya. Tempat Cyan pertama kali menyuntikkan racun sialan itu. Tempat Cyan menjerit-jerit sakaw. Tempat Chartreuse menangis dan Cyan meracau, addicted.

Chartreuse mendekati tape sialan itu, menekan tombol play,

Sekali lagi kukatakan bahwa dosa telah tiada…Sekali lagi kukatakan bahwa dosa telah tiada…

Chartreuse membaringkan lagi dirinya di ranjang butut itu, kelelahan, galau, dihunjam kesakitan yang amat dalam, kesedihan tanpa air mata, lalu tak sadarkan diri…

Dan aku bukanlah apa-apa…

***

Samantha menghadiri penguburan itu dengan berbagai alasan;

Semenjak kematian Joey, kuburan sudah seperti sarapan pagi, makan siang dan cemilan malam baginya…

Mengenang Niskala…

Mencoba kembali melecutkan vaginannya diatas pusara, apa masih sedahsyat dulu…

Kematian baginya jelas merupakan suatu hal yang sangat biasa, banyak sekali orang-orang mati ketika bersentuhan dengannya, termasuk Cyan. Hanya dia memang yang tahu persis penyebab kematian Cyan. Tepat seperti yang dilakukannya pada Joey.

Coba perhatikan ini:

Samantha Story babak I Episode II

Samantha Teriak

(Sekuel Samantha)

Samantha kembali berteriak

"Joey, aku ingin mati."

Joey balas berteriak

"Matilah! Aku tidak peduli."

Samantha bergumam

"Baiklah, aku akan mati tapi indah dan kau ikut."

Joey balas bergumam

"Samantha, aku tidak kenal kau yang sekarang. Lantas, siapa kau?"

Joey mendekat

Samantha merangkul bayangan Joey

Samantha berteriak di telinga Joey

"Aku Ruh Kematianmu! "

Joey meninggal dunia dalam rangkulan cinta Samantha

Joey mati muda

Samantha teriak

"Joey, jangan mati!"

Bandung, 20 Mei ‘99

Tengah Malam

Rumors bahwa kematian Cyan disebabkan oleh Heroin dan Niskala tentu saja tidak benar, menurutnya. Samanthalah yang membunuh Cyan. Keinginan kuat Samantha untuk matilah yang menyebabkan energi kematian itu berpindah pada Cyan.

Samantha pertama kali melihat Chartreuse pada saat prosesi penguburan jenazah Cyan. Samantha memperkenalkan diri,

"Namaku Samantha…akulah yang membunuh Cyan. Maafkan aku!"

Kenyataan itu tidak pernah diakui Chartreuse. Ingatannya tentang Samantha hanyalah pada wilayah dendam. Dendam yang mungkin membangkitkan gairahnya untuk membunuh atau bunuh diri. Tapi meski begitu, kedua hal itu tidak akan pernah terjadi.

Satu puzzle mulai tersusun di tempat yang tepat… awal yang baik. Tapi… tapi… tiba-tiba bayangan mengerikan menyeruak dalam benaknya. Sesuatu yang gelap menyelubungi isi kepalanya. Sebuah bentrokan yang aneh, lagu itu menyalakan ingatannya, tapi ingatan tentang sesuatu yang gelap. berganti menjadi Keranda Mimpi. Tiba-tiba secercah ingatan menyala terang dalam kepalanya.Gadis itu belum juga menemukan dimana dirinya. Nyawanya belum juga sukses terkumpul… memorinya terus berputar seperti putaran CD menggesek lensa CD-ROM komputernya. Nge-hang!Sebuah ruangan berbentuk persegi, 4×5 meter persegi, kosong, dinding-dinding putih terkelupas, hanya ada sebuah ranjang butut di sudut ruangan tempat dia berbaring, sebuah tape compo berumur jutaan tahun, tanpa casing, dan dari sana masih menggelegar suara Niskala Ruhlelana menyanyikan Aloerotisme dengan iringan personil band Samantha Impossible Dream (SID) yang masih utuh, Ervi pada Gitar dan Background Vocal, Erva pada Biola, Yane pada Keyboard, Karna pada Gitar, Niskala pada Loop Program dan Lead Vocal, Suram!

PARA PENATA GAYA

February 26th, 2006 by samanthaschool

suatu ketika, beberapa detik yang lalu sebenarnya, aku bertemu dengan seorang wanita yang berbau kayu manis bercampur lelehan gundah. dia menatapku dan tiba2 berteriak…

"Jeleeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeek…………………………………..!!!!!!!!!!!!"

aku kaget, dia meneruskan berteriak,

"Kamu harus didandani….!!!!!!!"

?????narik nafas panjang?????

SERIGALALIA-THERESIANITAS AND OTHER STORIES

January 19th, 2006 by samanthaschool

SERIGALALIA-THERESIANITAS

Perlahan

Sangat perlahan

Kuteriakan padanya sebuah nama

Sebuah nama yang digdaya

Sebuah nama yang membantu jantungnya cepat berhenti

Perlahan

Sangat perlahan

Kuceritakan padanya sebuah kisah

Sebuah kisah yang perkasa

Sebuah kisah yang membantu jantungnya cepat berhenti

Lalu kuletakan dia diatas meja panjang persalinan

Kubuka lubang rahimnya kuat-kuat

Hingga terdengar bunyi robek yang menggema

Dari lubang itu aku mendengar sebuah lolongan keras

Panjang membahana

Sebuah lolongan dari sebuah nama yang digdaya

Sebuah lolongan dari sebuah kisah yang perkasa

Darah tercecer dan akan terus fantasi

Hingga lolongan itu berganti menjadi gumaman

Perlahan

Dan sangat perlahan

Delirium

Simulacrum

Infinitum

Tergores

NASIOIRONICALASIA

Dia begitu percaya bahwa angin bisa membawanya terbang jauh

Menembus kapitalisme semesta

Tapi dia lupa bahwa angin tidak pernah ada disana

Maka dia akan tetap ada disana

Di bawah bendera yang tidak pernah berkibar

BREAKTROUGHLOGY-UBERMANSIA

Ribuan volt listrik mengalir di telinganya

Mendengungkan berita dari Illana

“Hai…waktumu sudah tiba!”

Dia terbangun

Membawa embun terbit di ujung matanya

Lalu menggeliat

“ah…waktuku sudah tiba!”

Melesat

Menjadi angin dan selanjutnya cahaya

APOCALIPSIA-NEUROPSEUDOTRIA

Bumi bergulung di balik selimut tua yang diwariskan cahaya, kakek tuanya

Gelap gempita

Tutup telinga, gemuruh defragmentasi ribuan tahun

Tersesat

Buka mata kuat-kuat

Menyilau membentuk rangkaian dioda diatas dupa

Kerlap

Kerlip

Berpelantingan

Seperti mekarnya mushroom diatas defekan Taurus

Seperti itu pula fantasinya

Bumi terus bergulung semakin bulat

Semakin bersembunyi dibalik selimutakutnya

Gelap gempita total

PHEROMONIA-ILUSTRASIA

Aku tidak akan terkejut

Bila dia menyumpal tanah dengan bisikan-bisikan lukanya

Aku tak akan terkejut

Bila kukunya terus menggaruki tanah merah rapuh

Yang merendam ingatannya

6 kaki di bawah asap-asap dupa yang menjelma doa

Tapi betapa terkejutnya aku

Ketika tahu bahwa nafasnya terengah

Melarikan diri dari hirupan kecewanya

Seperti dua kutub yang beradu

Negatif-Negatif

Atau

Positif-Positif

Karena jauh di ujung sana

Aku tahu

Ada setengah pedang yang terbelah oleh tebasannya sendiri

Sekarang aku juga tahu

Bahwa bau ilalang yang bergemerisik

Adalah

Sisa nafasnya yang sedang dia kejar

Satu titik embun

Terjatuh dari ujung terjauh dagu semesta

Dan aku tidak heran atas itu

GLOSSOLALIA DIATAS BOTOL VODKA

Pernahkah kau mendengar

Cerita tentang angin gurun

Yang ribuan tahun membentuk sebuah gunung batu

Tempat Musa mendapat sejuta perintah dari Tuhan

5000 tahun kemudian

Sejuta angin bergemuruh

Membawa sejuta perintah dari Tuhan

Menerbangkannya ke seluruh kepala yang berdiri tegak diatas iman

Dan gunung batu itu sekarang berdiri kokoh

Menjulang bagai benteng pertahanan para dewa yang dipuja lupa

Melekat di setiap rasa

Di setiap kepala

Satu-satunya hal yang bisa merobohkan gunung itu

Hanyalah angin gurun di zaman musa

Yang bisa menghembuskannya

Hanyalah sebotol Vodka

Seorang tua pernah berkata padaku

Jangan tinggalkan botol selalu terisi

Terdiam seperti semedi seribu candi

Seribu adalah tak ada

Ekstasi

Sabda-sabda

Vodka

Glossolalia

Kotak Pandora

KUTUKAN ILLANA

Perempuan itu bernama Illana

Seperti senjata berujung cakra

Menembus jantungku

Merubahku menjadi tiga cawan dusta

Dan satu cawan rahasia yang bersembunyi dari seluruh inderanya

Cawan pertama berisi dusta nestapa

Cawan kedua berisi dusta tiada

Cawan ketiga berisi dusta angkara

Illana memandangiku

Mengumpulkan mukanya tepat ditengah meledaknya waktu

Aku tak sanggup lagi menahan satu-satunya cawan

Yang mungkin akan membuatnya terlena

Tapi aku tak bisa memperlihatkan padanya

Yang benar saja…

Illana berkata:

Sudahlah!

Kali ini benar-benar kukutuk kau menjadi pangeran

Yang membawa tiga cawan dusta diatas surga

Dan satu cawan yang tak bisa membuatmu beranjak turun tangga

Semoga bahagia

Dan kali ini

Aku benar-benar kehabisan dusta

Untuk kuteriakan pada Illana-Illana lainnya

Yang menggelayuti ujung terjauh dari tasbih suciku

Pada Dewa-dewa yang juga menyembunyikan dusta

Diantara pedang mereka

Yang menebas leher para pemuja Illana

SMS-SMS BERIKUTNYA, masih dari Kerajaan Cahaya

December 28th, 2005 by samanthaschool

ih, memang Raja Satu yang satu ini, yang disembah secara fantastik dan bervariasi oleh seluruh manusia di dunia dari semenjak mereka diciptakan dan mungkin hingga mereka dimusnahkan oleh-Nya, memang agak kecentilan ketika mengirimku sebuah SMS tadi malam.

ceritanya begini:

saat itu sebenarnya kami sedang bertemu muka, tapi ada seseorang yang selama ini mengaku nabi-Nya, tampaknya begitu serius ingin berbicara dengan-Nya mengenai sekelompok kaum yang sangat mempercayai bahwa "berperang" dengan bom yang menghancurkan dirinya sendiri adalah satu-satunya jalan untuk melebarkan sayap kapitalisme. dan Dia menanggapi si "nabi" seperti, seolah-olah…

pada titik-titik boring itulah, setelah dia mendengarkan selama hampir 2 jam ocehan nabi konspiratif itu, dia mengirimiku sms dibawah ini. saat itu aku sendiri lagi asik maen game Insaiquarium Deluxe, soalnya aku hampir dapetin Presto, si Ikan terakhir.

"Vin,ni tmn loe bkn?selametin gw dong,pura2 ajak gw kmn gitu…"

si nabi, gak ngeh kalo tuhan saat itu nge-SMS aku tanpa melihat HP nya di bawah meja…

kontan saja aku bergelak-gelak…dan ketika si nabi melirik aku, dengan bahasa tubuh yang apologic aku menunjuk komputer, dan seolah-olah bilang aku sedang membaca salah satu e-mail lucu dari seorang teman.

Si Raja Manusia, yang bergelar Tuhan itu langsung menunjukan muka greget ke arah aku, sambil sembunyi-sembunyi, karena takut ketahuan si nabi…

setelah itu si nabi kembali nyerocos ngomong ke si raja, aku menahan tawa…sambil meneruskan Insaniquarium ini…

dan kalo kamu melihat tampang Tuhan saat itu, kamu juga pasti bergelak-gelak…hahahaha….

terus dia ngirim SMS lagi:

"Sialan lu vin,awas,doa lu saat Tahajjud nanti,gw mau pura2 tuli…"

aku balas:

"My God,jgn lupa,km kan Maha Mendengar,terlalu sulit untuk pura2 tuli,km butuh penyumpal telinga yang Maha Besar,he.he.!"

SMS dari kerajaan cahaya

December 1st, 2005 by samanthaschool

Isinya kira2 begini:

"If you try the best you can, you can try the best you can, the best you can is good enough"

GOD

terus aku menengadah ke atas, padahal DIA belum tentu ada di atas sambil berucap:

"It’s ok GOD, i’m now fine, really fine!!! Thank’s!"

setitik dan hanya setitik air mata jatuh melumeri jantungku yang berdegup kencang, terus aku terisak2 hingga tersengal, tapi akhirnya aku benar2 segar, segar sekali…seperti meminum segelas es kelapa muda di tengah2 gurun pasir…

Para Pemuja Lupa Bag.I

October 26th, 2005 by samanthaschool

Dia adalah salah seorang dari sepuluh orang yang memuja lupa, menjadikan lupa adalah Tuhan mereka. Menyembahnya seperti layaknya kau shalat, ke gereja, ke vihara atau yang lainnya. Pernahkah kau mendengar sebuah kalimat dari seseorang Perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah seperti ingatan melawan lupa Itu berarti manusia adalah ingatan dan lupa adalah kekuasaan. Mengerti kan apa yang kumaksud. Siapa satu-satunya hal yang mempunyai kekuasaan, bahkan mutlak? Tuhan. Maka lupa adalah Tuhan. Silogisma Aristoteles, Isnt it? Dan ingatan adalah manusia. Dengan alasan lain, bukankah manusia selalu mengingat? Dan satu- satunya saat manusia tidak mengingat adalah saat manusia merasakan moment-moment ketuhanan, seperti misalnya ekstasi, orgasme dan banyak lagi. Ini berarti perumpamaan ini mendukung teori diatas bahwa lupa adalah Tuhan. Dan keseluruhan teori inilah yang menyebabkan mereka memuja lupa. Ritual yang paling disukainya dari agama Lupa ini adalah, mereka menyebutnya, mekanisme penyusunan diri dalam skizoprenia. Ini berarti ingatan benar-benar dihilangkan. Dan kita semua tahu bagaimana orang-orang menyebut hal ini sebagai Lupa Ingatan dengan kata lain GILA. Ada beberapa tahap untuk mencapai level tertinggi dari mekanisme penyusunan diri dalam skizoprenia ini: -Tahap pertama; Migrain. Ini adalah saat kepalamu terbelah. Ini adalah saat kau bisa memisahkan diri dari ingatan. Kau di satu belahan kepala dan ingatan di belahan kepala yang lain. Ini adalah saat dimana kau bisa melihat ingatan dari luar ingatan itu sendiri. Saat inilah dimana kau bisa mengenali ingatanmu dari sudut pandang luar dan mempelajarinya, mengerti kelemahannya untuk kemudian -Tahap kedua; menyerang ingatan. Menyerang dengan keseluruhan energi dan pengetahuanmu mengenai kelemahannya. Lalu -Tahap ketiga; kalahkan. Ambil semua yang ada disana. Item-itemnya, file-filenya dan sebagainya. Setelah itu -Tahap keempat; hapus dan penjarakan. Hapus semua file yang bisa dihapus dan penjarakan di relung terdalam kepalamu semua file- file Read-Only. -Tahap kelima; kuasai tubuhmu dengan apa yang disebut oleh para psikolog sebagai personality disorder ini. Saat inilah sesuatu yang bernama Intuisi muncul. Dan intuisi ini yang kemudian memandu seluruh hidupmu, gerakmu serta keinginanmu. Intuisi inilah yang disebut sebagai level tertinggi dari mekanisme penyusunan diri dalam skizoprenia.

Hopeless but maybe you can help me…

October 23rd, 2005 by samanthaschool

Sakit itu membuatku gila…

Sakit yang belum pernah kurasakan ini membuatku menyesal tidak menyusunnya terlebih dahulu dari semenjak awal.

Sakit yang disebabkan oleh kebingungan. Aku bahkan tidak tahu sakit ini muncul karena terlalu mencintainya, atau karena egoku merasa dikalahkan, atau karena terlalu khawatir dengan apa yang akan mungkin terjadinya padanya setelah aku benar-benar pergi dari hidupnya.

Aku kesepian, aku merasa ditinggalkan oleh semua orang. Semua orang yang kucintai dan semua orang yang pernah mencintaiku. Dari awal aku selalu bilang bahwa aku lebih senang mencintai daripada dicintai. Ternyata selama ini aku berbohong pada diriku sendiri. Aku juga butuh dicintai. Atau mungkin egoku butuh keseimbangan.

Aku selalu bilang pada orang-orang bahwa rasa cinta yang muncul setelah kau dikecewakan atau ditinggalkan bukanlah rasa cinta yang sebenarnya, itu hanyalah ego karena kau merasa dikalahkan. Memang mudah ketika bicara, ketika itu terjadi pada orang lain, tapi ternyata sangat sulit jika itu menimpa diriku sendiri. Aku bahkan tidak tidak tahu lagi apa yang kuinginkan, apa yang harus kuperbuat berikutnya.

Sekarang semua hal yang kulihat, kudengar, kurasakan, jadi terasa menyakitkan. Semua makanan terasa hambar, semua hiburan tak mempan menghiburku, semua kesibukan hanyalah mengalihkan perhatianku sesaat saja. Ketika aku sendirian, semua rasa sakit itu kembali menghampiri.

Aku bahkan sudah tidak bisa lagi berteman dengan siapapun, entah kenapa. Mungkin aku ketakutan. Takut dikhianati lagi, takut menyakiti, takut disakiti, takut salah, selalu saja takut untuk memulai sebuah hubungan baru, meskipun hanya berteman. Lengkapnya aku merasa meninggalkan dan ditinggalkan semua orang, meninggalkan dan ditinggalkan dunia.

Aku tahu, ini bukanlah penderitaan terbesar yang mungkin terjadi pada manusia, masih banyak orang yang lebih menderita dari aku, tapi kenapa aku merasa saat ini aku sangat menderita, aku sangat sakit.

Hal yang selalu hadir dalam imajinasiku saat ini hanyalah bagaimana cara bunuh diri yang efektif. Hal yang dari dulu selalu kuhindari. Karena bunuh diri bukanlah sebuah jalan keluar yang terbaik untuk siapapun yang sedang menderita seperti aku. Sebenarnya aku sangat ngeri dengan hal yang menyangkut bunuh diri. Aku takut aku akan melakukannya. Tapi pikiranku selalu saja ke arah

sana

, bunuh diri.

Aku pernah terobsesi dengan bunuh diri, dulu. Aku selalu merasa bahwa bunuh diri adalah cara mati yang paling indah. Tapi aku sudah meninggalkan pikiran itu ketika aku bertemu dengannya. Dia datang padaku dengan mengenalkanku pada realitas, karena sebelum ketemu dia aku lebih banyak hidup di dunia mimpiku, di dunia fiksi yang kubangun sendiri. Aku bahagia dengannya, meski aku harus meninggalkan dunia fiksiku yang kucintai sebelumnya, aku lebih mencintainya. Aku senang dengan realitas yang ditawarkannya padaku. Aku menjalaninya, membangun mimpi bersamanya. Bahkan aku sudah tidak punya mimpi untuk diriku sendiri, setiap kali aku bermimpi selalu mimpi bersama dia, mimpi untuk kita berdua. Dan kupikir diapun melakukan hal yang sama sepertiku. Hingga pada akhirnya dia meninggalkanku saat aku sudah benar-benar tidak punya mimpi untuk diriku sendiri, semua mimpi yang kususun adalah mimpi-mimpi bersamanya.

Ketika dia meminta untuk mengakhiri hubungan, aku benar-benar shock, karena ini benar-benar diluar dugaanku, duniaku langsung runtuh seketika, mimpi-mimpi yang kubangun untukku dan untuknya hilang seketika. Aku limbung dan nyaris muntah-muntah. Aku mencoba menerimanya, tapi malah rasa sakit luar biasa yang muncul. Manusia tidak bisa hidup tanpa mimpi bukan? Sekarang aku benar-benar tidak lagi punya mimpi, aku merasa untuk apa lagi aku hidup, karena selama ini aku hidup karena ada dia disampingku, selalu ada dia, untuk dia.

Sekarang aku hidup untuk apa!

Aku sudah tidak punya energi untuk melakukan apapun. Sedangkan dia… dia sudah merencanakan hal ini 3 bulan sebelum memutuskan hubungan, dia sudah membangun mimpinya sendiri secara diam-diam selama 3 bulan tanpa mengikutsertakan aku didalamnya. Jadi dia sungguh baik-baik saja. Aku? Jelas tidak! Ini terlalu mengagetkan, terlalu cepat. Selama ini aku membayangkan menghabiskan masa depanku dengannya. Sedang realitas yang kuterima sekarang tidak begitu.

Aku harus memulainya lagi dari awal, memulai hidupku dari awal, karena semua kehidupanku sudah diambilnya, semuanya. Dan aku sudah tidak punya energi lagi bahkan hanya untuk memulai.

Apa benar dalam kondisi seperti ini jalan terbaik adalah mengakhirinya saja. Dalam hal ini apakah aku harus mengakhiri hidupku saja untuk menyelesaikan segala urusan?

Somebody, help me please…! Beri aku jalan keluar, apakah aku harus memulainya lagi dari awal? Bagaimana caranya? Atau akhiri saja? Bagaimana juga caranya?

Aku tahu, ini terdengar sangat cengeng dan cemen, tapi aku benar-benar sedang butuh bantuan sekarang, bukan  judgemental.