Menu Malam Ini: Sepukul Nasi, Segila Kisot, dan Sebungkus Bara
Dia menekan tombol paling besar di permukaan depan CPU-nya,
dengung kipas adalah yang pertama terdengar,
muncul satu persatu sehingga ketiganya seolah menyambut kedatangan suara mother board,
sang ibu dari keseluruhan mesin,
papan induk berwarna merah bata
dengan komposisi rumit komponen
yang saling tegak berdiri
seolah papan ini adalah maket Ibu Kota
dengan gedung-gedung tinggi yang menjulang.
Satu sentuhan pada tombol besar bulat
membuat semuanya jadi hidup dan berfungsi,
menggeliatkan sang ibu yang hanya tidur 2 jam setiap hari.
Layar datar 17 inch di depannya menyala,
menampilkan perkenalan sang mesin pada para penggunanya,
menampilkan pencarian sang mesin pada sistem booting,
suara putaran logam hard disk mulai bergabung bersama teman-temannya,
sekarang suara saling menimpa,
beradu dan bergantian seperti suara pagi hari
yang dimulai dengan suara kokok ayam,
berkejaran dengan suara adzan
dan bunyi sepeda motor yang dipanaskan,
internal speaker menyanyikan bunyi-bunyi morse,
pertanda sang ibu sudah menemukan anak-anaknya,
dia mencengkeram jendela,
membukanya,
speaker aktif menyanyikan lagu pembuka jendela,
layar datar satunya di sebelah kiri 32 inch masih gelap
ketika layar di depannya meminta dia memasukan nama dan kata kunci,
dia tidak peduli,
dia tekan enter seolah eksekusi,
lalu layar kiri mulai menyala,
menampilkan awal jendela yang lebih lebar dan lebih panjang,
sedang memuat jutaan kode,
lalu gambar kertas dindingnya muncul di kedua layar.
Sebuah Surat Elektronik yang paling menarik dia klik dengan kecepatan luar biasa…
surat ini mengejutkannya… melihat nama pengirimnya saja dia langsung terhenyak…
apalagi ketika melihat isinya…
Dear, Niskala - atau ex-Niskala - atau siapapun kau sekarang…
Maaf butuh lama sekali aku membalas surat terakhirmu…
ada banyak hal yang harus kuselesaikan dulu.
Intinya aku cuma mau bilang:
Aku sudah pulang…
aku tunggu kamu di rumah ya, kalo bisa secepatnya.
aku takut sendirian disini, rumah ini sudah tidak lagi tepat disebut rumah. untunglah ada satu kamar, kamar belakang, yang masih layak dibersihkan lalu ditinggali. selebihnya aku kerjakan sedikit-sedikit.
itulah makanya, kamu cepat pulang ya. Kembali. Padaku.
Niskala menarik nafas panjang…
Tags: Add new tag