It’s OK God, We’re Fine!
Rumah dalam kepercayaan Yunani Kuno…
Gibran, rumahku istanaku, arsitektur rumah di kampung-kampung terpencil sunda.
Bangunan dari kayu itu sudah hampir rubuh sejak lama, renta, beruban dan basah kuyup terkena hujan sebulan terakhir ini. Hujan memang deras sekali, menjauhkan matahari dari jangkauan semua penghuni bangunan kayu itu. Begini, sebenarnya tidak melulu kayu melainkan malah di dominasi bambu yang sudah dianyam menjadi bilik-bilik dan dibentuk kubus dengan menambahkan atap rumbia diatasnya, jadilah sebentuk rumah…itu kira-kira delapan puluh tahun yang lalu. Sekarang lebih sebenarnya lagi malah menyerupai gubuk, tapi aku lebih suka menyebutnya bangunan kayu. Untunglah kualitas kayu jaman dulu sangat bagus, direndamnya aja bisa berbuan-bulan bahkan tahun, kuat banget kan jadinya!
Penghuninya bermacam-macam; seorang perampok, seorang tabib dan seorang pendongeng keliling. Ketiganya laki-laki disekitaran 25-27. Umur yang produktif untuk profesi masing-masing bukan? Profesi ini tidak mereka pilih melainkan lebih karena keputusan yang tergesa saat itu, saat mereka disekitaran 20-23. Keputus-asaan? Aku lebih menyukai kata yang pertama, keputusan yang tergesa ketimbang keputus-asaan, meski kemudian mereka menyebutnya takdir yang harus mereka jalani.
Selain mereka adalah teman satu SMA dulu, kesamaan yang lainnya adalah mereka bertiga menyukai daging rusa atau ayam hutan atau babi hutan hasil buruannya sendiri. Mereka tidak pernah beternak, lebih suka berburu, lebih suka menjadi golongan teratas dalam rantai makanan di hutan itu. Berhubungan dengan rantai, mereka juga nantinya akan terhubung dengan sebuah rantai acak dengan tokoh-tokoh lainnya, kalau ada beberapa diantara kalian yang tidak menyukai kata rantai yang langsung mengidentikannya dengan logam, kalian boleh menyebutnya jaring laba-laba, biar gak disangka super-dee-novian, sebut saja spiderweb. Atau boleh juga dipanggil lambit, bahasa sunda, yang berarti jaring untuk menangkap ikan. Tapi itu nanti dulu. Akan kuceritakan dulu tentang mereka, trio bangunan kayu ini, sebelum nyambung ke tokoh-tokoh lainnya.
Keputusan tinggal di tengah hutan dibuat saat keputusan tergesa itu muncul. Alasan awalnya memang karena gairah berburu mereka tadi, agar lebih dekat dengan buruannya. Alasan berburu juga bukan hanya karena superioritas akan golongan teratas dalam rantai makanan, tapi mereka tahu bahwa daging-daging yang tumbuh di hutan adalah daging-daging cerdas yang berkembang biak secara natural dan tidak diikutcampuri manusia dengan tetek bengek peternakan dan segala macam bisnis didalamnya serta zat kimia buatan berdalih biokimia yang selalu terlibat dalam semua proses itu. Itupun, berburu, hanya mereka lakukan sekali dalam sebulan, selebihnya mereka vegetarian yang taat, bahkan mereka tidak makan telur, susu atau daging putih, lebih seperti vegan. Makan daging itu kebutuhan, kebutuhan akan gairah omnivora yang masih bersarang dalam tubuh kasar mereka, lebih ke wilayah spiritualitasnya ketimbang kebutuhan jasamani, meski mereka tidak pernah menyangkal bahwa daging rusa, babi hutan atau ayam hutan memiliki protein yang tinggi yang sesekali memicu adrenalin mereka untuk menggairahkan naluri-naluri jasmaniah yang sering mereka abaikan, itulah kenapa salah satunya mereka lebih senang berburu. Daging bikin otak jadi panas, sesekali boleh kan memanaskannya dengan sesuatu yang cerdas, daging yang cerdas.
Pertama; Syiv (dibaca; SYU), si perampok. Kedua; Brahm (dibaca; BRAM), si tabib. Ketiga; Vishn (dibaca; WIS), si pendongeng keliling. Ini memang bukan nama asli mereka, nama-nama ini mereka ciptakan saat keputusan tergesa itu dibuat untuk kemudian melupakan nama asli masing-masing untuk selamanya.
Syiv, sesuai dengan profesinya badannya tinggi besar putih dan ganteng berkarakter dengan rahang yang kuat seolah bisa mengunyah paku seperti mengunyah daging, tipikal para perampok pahlawan ciptaan orang-orang inggris atau legenda-legenda Jawa di jaman kerajaan. Syiv berambut sebahu, bergelombang, tanpa kumis dan janggut, selalu di cukur habis setiap tiga hari sekali. Pakaiannya grungy abis, jeans belel robek-robek di lutut dan di pantat, robek dengan sendirinya sebab dia tidak punya celana lain semenjak keputusan tergesa itu dibuat, sepatu converse all stars putih low cut dan robek-robek juga, lem sepatunya tak pernah copot, tipikal converse all stars buatan luar, karena dia beli waktu itu dari temennya yang lagi sakaw, bisa dipastikan bukan produk tanggerang yang lemnya mudah copot, kaos oblong yang cuma ada dua pilihan warna, hitam dan putih, bersablonkan wajah-wajah para pembesar musik yang dulu saat di Bandung lagunya sering nangkring di list win amp komputernya, Pearl Jam, The Doors, Smashing Pumpkins, Radiohead, Sound Garden, Joy Division dan Sonic Youth.
Brahm, berbadan agak gemuk, tinggi juga,kulitnya sawo matang, kepalan tangannya mantap, pertanda bahwa dari tangannya dia bisa mengubah apapun menjadi bentuk yang dia inginkan, selain tabib, Brahm juga punya hobby main tanah liat, wajahnya lembut kekanakan, tapi ada ribuan kebijakan timbul dari sana, seperti Vin Diesel, kokoh tapi lembut, gahar tapi kekanakan, mata Brahm seperti kucing saat merayu kita meminta makan siang. Kepalanya plontos, seperti sorang Budhis, tapi Brahm tidak menganut agama apapun, agama bukan lembaga katanya, agama itu personal. Setelannya sederhana tapi menyentuh, pas dengan karakternya, celana kain yang bahannya jatuh, kemeja berlengan pendek dengan sablonan distro bikinannya dulu di dada kanannya, berkalung tasbih dari kayu cendana yang selalu memancarkan harum. Memakai gelang rajutan yang dibikinnya sendiri, dia belajar membuat ini saat sering nongkrong di emperan BIP di akhir 90-an. Belajar dari anak-anak pedagang lapak emperan BIP.
Vishn, kurus, agak hitam seperti tak terurus padahal terbakar sinar matahari, kulita dasarnya sebenarnya putih, lihat aja bagian tubuhnya yang selalu tertutup pakaian, tingginya 5 senti di bawah Syiv, mukanya penuh kerutan di jidat, wajahnya manis-manis sunda, rambut 5 senti lebih panjang dari Syiv selalu dibiarkan terurai, ada janggut panjang dengan kumis tipis melintang di bibirnya, matanya selalu bercahaya meski sayu, meski sedang sedih, ide-ide brilian selalu muncul di kepala dan mulutnya, Vishn memang sangat suka bicara, mendongeng, dan terus mendongeng, dongeng apapun yang melintas dikepalanya saat itu. Vishn bersetelan Hippie, kemeja halus putih tua dari katun yang lusuh, celana jeans belel tapi gak robek-robek, sendal jepit dari bekas ban luar mobil, jubah panjang tanpa kancing berwarna coklat selalu melekat di badannya, berkibar ke belakang kalau terkena angin, akan mirip nabi kalau dia memegang tongkat panjang berlekuk dari batang kayu kecapinya yang dia dapatkan dari seorang musafir beberapa tahun lalu di sebuah makam kuno di Panjalu Ciamis dalam sebuah obrolan panjang tentang sejarah spiritualitas raja-raja Sunda.
Bangunan kayu yang mereka tinggali sebenarnya dulu dimiliki oleh seorang anggota gerilyawan DI yang dibantai TNI pada jaman Soekarno, tak pernah ditempati lagi karena dianggap angker oleh penduduk di desa yang jaraknya sekitar dua bukit dari sana, maklumlah, gerilyawan DI itu di bantai di rumahnya sendiri, kabar tersiar mayatnya beserta beberapa gerilyawan yang lain gak pernah dikubur, ditelantarkan begitu saja disebelah rumah itu, gak ada yang berani menyentuh mayat mereka, semenjak itu pula jalan setapak menuju hutan jadi berubah, kalau ada penduduk yang ingin mencari kayu bakar harus setengah berkeliling berjalan sejauh mungkin dari area itu, hingga ahirnya jalan lama tertutup ilalang dan tercipta jalan setapak baru yang juga akan menghubungkan dengan desa-desa lain di sekitar pinggiran hutan itu. Suatu keuntungan bagi ketiga lelaki itu ketika tak satupun penduduk desa yang berani menembus jantung hutan itu, tempat merek berada, jadi mereka santai dan keberadaan mereka tak terdeteksi, gak crowded, tempat yang tepat untuk sebuah persembunyian sakral yang mereka jalani.
SAKRAL?
bersambung…