Bagian Empat: Sangkuriang dan Kontroversinya
Bagian Pertama
Sangkuriang, Glossolalia Lelaki Tua dan Selinting Bako Mole
Sebagai informasi yang cukup penting, lelaki tua yang akan saya ceritakan dibawah ini sebenarnya adalah seorang tokoh sejarah yang sangat berpengaruh dalam perkembangan penemuan manuskrip-manuskrip sejarah sunda. Penemuannya itu masih terus dipakai sebagai bahan rujukan di beberapa jurusan sejarah di kampus-kampus, baik di Indonesia maupun di luar negeri, terutama Belanda dan Perancis. Meski beberapa puluh tahun kemudian, banyak teorinya yang dibantahnya sendiri melalui penelitian-penelitian barunya yang terkesan emosional tapi menurut saya malah lebih akurat dibanding teori-teori sebelumnya. Akibat dari kesan emosional inilah pada akhirnya teori-teori barunya tidak terlalu dianggap oleh kaum akademisi. Mereka menganggap bahwa Si Tua ini sudah pikun dan mulai merengek-rengek seperti anak kecil. Hingga akhirnya Si Tua ini tidak lagi diketahui rimbanya di dunia akademis dan beberapa desas-desus mengatakan Lelaki Tua ini berkeliaran di jalan dengan hanya memakai celana dalam dan baju rombeng. Sampai suatu saat seorang pemuda bernama Niskala menceritakan pertemuannya dengan Lelaki Tua ini lengkap dengan semua percakapannya pada saya beberapa waktu yang lalu. Berikut ini adalah reduksi saya mengenai pertemuan dan percakapan mereka dengan efek dramatis yang saya cipatakan tentu saja dengan gaya saya agar bisa lebih dinikmati sebagai sebuah karya fiksi. Tokoh “aku” dalam cerita dibawah ini adalah Niskala. Saya sengaja mengubah subjek menjadi tokoh aku karena pada saat saya membuat naskah ini saya memakai sudut pandang Niskala dalam penggambaran ceritanya. Seorang lelaki tua, meski tidak berkarat, kau bisa melihat ketuaannya melalui mata mapannya, tajam, bijak dan sedikit merengek khas orang tua, menghembuskan asap bako mole berlintingkan daun kawung berbau 5 dekade lalu yang membawanya pada sebuah pelaminan sakral tanpa teks-teks terjemahan, yang membawaku pada saat-saat kota Bandung masih memiliki ribuan pohon rindang dan kereta kuda berlalu lalang, sejumput memori, kematian Daendels, berderet-deret heritage, pakaian vintage dan sebuah kata baru yang begitu halus dari majalah Poesaka Soenda. Ia mengerutkan keningnya yang terbangun oleh sejarah dan bentuk-bentuk huruf Sanskrit yang dimulai oleh ha dan diakhiri oleh ngha. Sejarah yang begitu disesalinya. Begitu tidak inginnya dia mengingat itu seperti kau tidak ingin mengingat seorang wanita yang kau pikir begitu mencintaimu tapi kau pernah memergokinya bercinta dengan lelaki lain dan lantas saat itu kau memberikan apologi atas tingkahnya itu meski sebenarnya kau sangat ingin membunuh keduanya saat itu juga tapi kau tidak melakukannya karena kau mencintainya, yang ada dalam pikiranmu adalah menyodomi laki-laki itu hingga laki-laki itu menyesal pernah lahir ke dunia. Kira-kira seperti itulah yang ingin dilakukannya pada Belanda yang pernah bercinta dengan leluhurnya yang dia pikir sangat mencintainya tapi dia memergoki percintaan itu dengan telak dan lantas saat itu dia memberikan apologi atas tingkah leluhurnya itu meski sebenarnya dia sangat ingin membunuh keduanya saat itu juga tapi dia tidak melakukannya karena dia mencintai leluhurnya dan seluruh peradabannya yang sudah terperkosa itu, yang ada dalam pikirannya adalah menyodomi Belanda hingga Belanda menyesal pernah menginjakan kaki di tanah Sunda yang begitu dicintainya itu. Belanda mengubah seluruh sejarah leluhurnya (yang sudah ribuan tahun dibangun melalui tradisi lisan) menjadi teks-teks tanpa ruh menggelayuti berbagai kaitan makna dan kata, semewujud kehambaran itu sendiri, sehambar keheningan artifisial yang diciptakan oleh kejemuan yang memadat hingga nyaris mati, menyebalkan sekaligus memuakkan, membuatnya serasa ingin muntah seperti minum berbotol-botol wine padahal yang diminumnya hanyalah segelas lemon squash dingin dengan kadar soda yang masih tinggi dan tingkat keasaman yang juga tinggi yang seharusnya membuat otaknya justru menyegar saat itu juga tetapi tidak karena rasa asam dan soda malah terinterpretasi dalam kepalanya sebagai berbotol-botol wine. Cerita-cerita seperti Sangkuriang, Kabayan, dan Dalem Boncel yang setiap generasi mengalami perubahan akibat kecenderungan improvisasi yang sewajarnya dilakukan oleh kepala dan lidah berubah menjadi baku karena tulisan (teks dan konteks) yang dipaksakan agar -seolah akan- abadi. Padahal yang terjadi malah membusuk dan abadi dalam keterbusukannya, terus melusuh seperti buku-buku tua di perpustakaan daerah dengan manajemen buruk karena dipenuhi korupsi gila-gilaan yang dilakukan oleh para pustakawan dan atasan-atasannya. Kering improvisasi, kering reduksi, kering diksi. Ia, menurut ceritanya, tidak pernah mengenal huruf-huruf dalam tradisi leluhur Sunda. Meskipun banyak ahli yang sok tahu mengatakan bahwa Sunda memiliki tradisi tulisan dengan huruf-huruf sanskrit. BullShit! Saat itu segala hal mengalir, pengetahuan mengalir dari satu mulut ke mulut lain tanpa pernah menjadi baku. Bahasa bagaikan air, mengalir dan luwes mengikuti tempatnya berpijak. Kata-kata seperti angin, menghembus… dia menyulut lintingan barunya yang tersusun rapi dalam sebuah kain bersablonkan 345 dengan garis plesetan dari kertas rokok Dji Sam Soe, berbau sapi betina yang baru diperah susunya, menguik… Huruf-huruf itu dijejalkan kedalam otaknya seperti sampah busuk, memprovokasinya, meracuninya, menggilasnya menjadi serpih-serpih tinja, dan mengotori seluruh bagian sejarah yang pernah dielu-elukannya bersama teman-temannya waktu kecil dulu. Di sebuah leuwi, berenang telanjang sambil menceritakan kekonyolan Si Kabayan yang selalu memiliki versi yang berbeda-beda untuk satu tema yang sama, dan masih tetap lucu dengan bagian penekanan lucu di wilayah yang berbeda-beda, dia menikmatinya waktu itu. Sekarang, Si Kabayan sudah menjadi buku dan laris, lalu satu kali dibaca, selesai, lantas ditumpukan dalam tumpukan-tumpukan kertas yang lain yang menggelora untuk menggeliat melepaskan diri dari keterpurukan stigma jenuh yang dibangun oleh huruf-huruf itu sendiri… lantas menguning disana, rapuh, renta, tua … Saya, katanya, lebih suka menyebutnya “teks-teks sekarat”. Setelah 10 menit berlalu dari kontemplasinya, dia melanjutkan ceritanya: “Tumpukan mayat kertas itu sebenarnya nyaris kubakar, sebab sebenarnya itulah yang mereka minta, itulah yang kertas-kertas itu inginkan. Agar lidah masih tetap berfungsi sebagai pencerita dan kepala berfungsi memberikan ruh-ruh reduksi dan improvisasi setiap kali ada pengulangan cerita dari satu orang ke orang lainnya. “Total pada saat itu aku sudah mendengar 1.347 cerita Sangkuriang dalam versi yang berbeda. Tapi sekarang akibat benda rapuh yang kita sebut tulisan itu, paling banyak aku hanya mendapatkan 15 versi dan salah satu diantaranya berupa gambar bergerak (Dalam film ini Sangkuriang menjadi Indo menjelma Cliff Sangra dan Dayang Sumbi menjadi Indo pula menjelma Suzanna) yang diterjemahkan dari kertas berisi tulisan versi ke 8 yang ditemukan oleh salah seorang sejarawan Sunda berkebangsaan Belanda 3 abad lalu. Tulisan itu berhuruf Pallawa dengan bahasa Sanskrit ditemukan di salah satu pulau kecil di utara Lombok. Sungguh menggelikan… dan orang-orang malah percaya (dipaksa untuk percaya/dipropaganda sehingga akhirnya percaya) bahwa kisah dalam manuskrip versi ke-8 itulah yang paling benar. Ada beberapa hal/bukti mengapa masyarakat percaya pada manuskrip versi ke-8 itu. Yaitu; Tebalnya kira-kira 3 kali lebih besar dari yang paling tebal dari ke-13 manuskrip yang pernah ditemukan. Judul yang paling sesuai untuk cerita yang diungkapkan. Tidak ada satupun dari ke-13 manuskrip itu yang berjudul “Sangkuriang” beberapa diantaranya berjudul sama yaitu, dosa pertama. Dan yang lainnya hampir rata2 berjudul buruk, tidak langsung mengacu pada tokoh yang diceritakan. Kebiasaan sastrawan pada masa itu selalu memberikan judul pada kisahnya langsung memakai nama tokoh utama dalam cerita tersebut. Judul untuk manuskrip ke-8 ini adalah Dayang Sumbi dan anak laki-lakinya. Meskipun ditemukan dalam urutan ke-8, melalui hasil test sinar x, manuskrip ini adalah yang paling tua. Tak ada satupun dari ke-13 manuskrip itu yang memberikan keterangan waktu. Waktu selalu ditunjukan dengan memakai simbol2 penanda waktu alamiah. Seperti matahari, menstruasi, posisi bintang dan kulit pohon. Sepertinya matematika memang diciptakan hanya untuk ras kaukasoid. Kisah dalam manuskrip yang ke-8 ini adalah kisah yang paling tidak masuk akal. Dengan anggapan bahwa pada masa itu hal-hal yang tersebut wajar terjadi. Hanya inilah satu-satunya manuskrip yang mengaitkan tokoh utama laki-laki dengan Gunung Tangkuban Perahu. Meski justru hanya manuskrip ini yang tidak menamai tokoh utama laki-lakinya, sementara ke-12 manuskrip lainnya justru memberikan nama pada tokoh utama laki-lakinya yaitu SANGKURIANG. Tangkuban Parahu memang harus menjadi bagian dari unsur cerita sebab ada sebuah tradisi yang memberikan asal-usul pada sebuah bentuk morfologis permukaan bumi, atau artefak artefak, yang dianggap ganjil. Atau disugestikan ganjil. Seperti kebanyakan cerita rakyat di Indonesia, selalu menghubungkan cerita-cerita tersebut dengan sebuah fenomena alam atau sebuah obyek alam yang ganjil dan dianggap sakral. Runutan cerita lebih terpola. Pada masa itu sastra kontemporer belum ditemukan. Romeo and juliet (yang diciptakan puluhan abad kemudian setelah naskah ini ditulis) jadi tampak sangat kontemporer. Keutuhan narasi dan bentuk-bentuk huruf yang konstan. Dan ini yang paling penting, kisah dan alur dalam manuskrip ke-8 adalah yang paling mirip dengan cerita lisan versi terakhir yang sudah menjadi pengetahuan umum pada masa itu saat manuskrip ini ditemukan.” Lelah… lelaki tua itu menghirup kopi tubruknya yang mulai mendingin dibuai angin. Sebenarnya sudah lama sekali lelaki tua ini ingin membuang jauh-jauh gelar Doktor dalam bidang Sosio-Historisnya. Memuakkan, gelar itu menyebabkan saya ingin muntah setiap kali mengingat masa-masa saya membuat desertasi tentang cerita sejarah mengenai kondisi masyarakat agrikultur Sunda pada abad ke-6. Huruf sanskrit itu, semua orang juga tahu, berasal dari India dan hanya mengintervensi Jawa dan, tolong tekankan, BUKAN SUNDA. Kalaupun memang Orang Sunda sudah mengenal tulisan maka bentuk hurufnya adalah lebih menyerupai huruf paku dan bukan Sanskrit. Dan itupun bisa saya pastikan, huruf-huruf itu hanya dipakai untuk perdagangan dan kegiatan-kegitan formal kerajaan, deklarasi, perjanjian dan undang-undang. Bukan sastra. Ingat! BUKAN SASTRA. Mengerikan… bagaimana ketika semua orang mempercayai Belanda bahkan hingga kini… hingga saat Belanda sudah hengkang puluhan tahun lalu… Kembali aku memandanginya, memandangi kerut-kerut dimukanya, daki yang sudah menempel puluhan tahun dimukanya, racauan schizophrenic-nya yang berulang-ulang, rambutnya yang menggimbal, bau tubuhnya yang seindah tumpukan sampah sore hari di pasar-pasar. Dia terus meracau di sini, di jembatan ini, di sebelahku, dengan mata tajam dan liar, dan selalu terus menerus memandangi Gunung Tangkuban Parahu yang menjulang di utara dan seolah ikut menangis bersama tokoh legendanya (yang dia yakini sebagai leluhurnya), di sore hari penuh debu. Lantas dia mengucapkan kalimat terakhirnya sebelum dia pergi, karena berdiri sambil membenahi tubuhnya dan tas karung terigunya yang entah berisi apa, sambil menyodorkan selinting bako mole yang baru dibuatnya (sepertinya memang sengaja dibuat untukku) padaku, dan ini kali pertama dia memandangku, hangat tetapi tajam; “Aku selalu bertanya, anak muda! Apa benar Gunung itu,” dia menunjuk Tangkuban Parahu, “adalah monumen keputus-asaan, kekecewaan, dan kemarahan Sangkuriang yang sengaja diciptakan agar kesakitannya diingat oleh orang-orang di masa depan? Itu PR buatmu, Anak Muda! Sebab sebentar lagi aku akan mati.” Aku tidak bisa menjawab. Seribu kebijaksanaan tiba-tiba menyeruak dalam tubuhku dalam diam yang panjang, membisu, menatap mata lelaki tua itu yang sedang mentransfer energinya berupa aura yang bertubi-tubi menyerbu tubuhku dan kepalaku, sebuah aura yang menyadarkanku akan kesimpangsiuran sejarah. Sejarah yang mana yang harus kupercayai? Lantas aku menyaksikannya pergi melangkah menuju Dago Utara dengan baju rombengnya yang berkibar-kibar tertiup angin berbau bako mole dan asap knalpot bis kota. ***
Bagian Kedua
Dayang Sumbi, Stigmata Sangkuriang, dan Gateaux-lotjo
Seluruh kejadian dalam bagian kedua ini terjadi dalam sebuah auditorium berbentuk kubus dengan dinding dan langit-langit serta lantai berwarna hitam kira-kira seukuran lapangan Futsal. Dan akan diawali dengan pengenalan salah satu tokoh sentralnya yaitu Gateaux-lotjo. Tapi kali ini saya akan menceritakannya dari sudut pandang saya sendiri, sebab saya ada di tempat kejadian dan mengenal dekat para tokoh yang ada dalam cerita ini. Dia selalu begitu; memicingkan mata, menggertak dengan kata-kata sinis seperti, “Aku tak suka cantikmu yang mengerikan itu!”, tersenyum, berkedip lalu pergi. Dia, lelaki yang selalu memperkenalkan diri dengan nama Gateaux-lotjo itu, selalu begitu; mengejan, mengerang, menyembunyikan sebagian wajahnya, berteriak santun: “Aku berharap semua tidak baik-baik saja!”, lalu turun dari “tugu sialan!” itu. Dia sendiri yang selalu menjuluki singgasananya dengan “tugu sialan!”, selalu memakai tanda seru. Ada lambang hegemoni dan birokrasi di tugu itu, dia sangat tidak menyukai kedua hal itu. Akan tetapi hanya tugu itulah yang paling tinggi yang bisa ia naiki untuk lantas berteriak dan dilihat semua orang dari berbagai arah. Dia sangat membenci angin. Angin adalah bentuk manifestasi kekurang ajaran semesta. Meraba-raba tubuh kita tanpa permisi, diizinkan ataupun tidak, tak bersyarat, bebas absolut, dengan tanpa gairah sekalipun. Angin akan datang tiba-tiba, meski tidak terlalu kencang, tapi tetap akan menyusup ke dalam kulitmu, membuatmu merinding, membuatmu kedinginan, kadang membuatmu mendapatkan kenyamanan bersyarat. Dia sangat suka berdebat, apalagi perdebatan tentang Cinta, Agama dan Filsafat. Inilah satu-satunya kelebihan yang dia punyai. Bila Kundera pernah berkata: perjuangan terbesar manusia adalah untuk menguasai telinga orang lain. Maka dia sudah mencapai puncak kekuasaannya bila dia berdebat atau monolog dengan siapapun. “Namaku Gateaux-lotjo!” Suatu kali dalam sebuah kelembapan cuaca yang sangat dipengaruhi oleh bekas luka para hujan yang tercurah sederhana dari gelembung awan-awan lebat. Tentu, dia mengatakannya dalam kesungguhan yang dibuat-buat sambil menengadah ke langit dan menepis beberapa angin. Menengadah ke arah para hujan tadi yang cukup membuatnya kuyup. “Aku bukan lelaki, sebab aku yakin penisku bisa hidup sendiri tanpa harus diperintah oleh otakku dan diberi nutrisi oleh pacu jantungku. Dia bahkan bisa berdetak lebih kencang dari jantungku pada saat-saat yang seharusnya tenang. Penis punya organ tubuh sendiri yang diperintah oleh otaknya sendiri…” Setelah itu dia menyusun dirinya dalam kesendirian genit yang mengundang cinta dan kebebasan untuk segera datang padanya, bersujud dan memohon untuk dilibatkan dalam semua orasinya. * Arahmaiani yang memakai kebaya modern dengan potongan lahak di punggung dan dada di depan 300 orang lebih penonton membuka kebayanya dan hanya memakai sarung, stagen dan bra. Lantas dia meminta penonton untuk memperlakukan tubuhnya sekehendak penonton dengan memberikan tiga sepidol besar. Satu-persatu penonton maju ke depan, menuliskan apapun yang ada di benak mereka ke tubuh setengah telanjang Arahmaiani. Ada yang menggambar bayi di perut Arahmaiani, ada yang menuliskan “Apakah ini perempuan, bukankah ini wanita?” di punggungnya dan banyak lagi yang lebih provokatif dari itu. Hingga seluruh tubuh dan wajah Arahmaiani dipenuhi coretan seperti dinding toilet di sekolah-sekolah atau kampus-kampus yang dipenuhi caci maki para hooligan hingga pernyataan cinta antar gay dan bahasa-bahasa kotor lainnya. Ketika pertunjukan masih berlangsung, tiba-tiba Gateaux-lotjo yang memakai baju bengkel terusan berwarna biru dengan topi bulu khas orang-orang Kozak di Rusia yang menutupi telinga untuk melindunginya dari terpaan angin dingin –hal ini membuat profilnya jadi mirip anjing bulldog– menggonggong, meneriaki penonton dengan gonggongan keras dan lari seperti anjing ke arah Arahmaiani berdiri. Dia mencoba menggigit siapapun yang mencoba mendekati Arahmaiani. Gateaux-lotjo secara tidak sadar sedang menyusun dirinya menjadi Si Tumang, atau bahkan mungkin terasuki roh Si Tumang dan mencoba melindungi istrinya, Dayang Sumbi, dari gangguan orang-orang dan tentu saja target utamanya adalah Sangkuriang, kalau memang saat ini Sangkuriang ada disini, sebagai salah satu manifestasi balas dendamnya gara-gara dipanah di masa lalu. Sangkuriang, sang tokoh sentral atau yang selama ini menjadi satus quo sebagai tokoh sentral dalam ceritanya sendiri, sedang dicaci maki dan diprotes habis-habisan oleh Arahmaiani sebagai bentuk wacana feminisme yang selalu diteriakan dalam setiap pertunjukannya. Sangkuriang sebagaimana cerita feodal lainnya adalah bentuk manifestasi kekuasaan lelaki yang dicoba-masukan kedalam benak setiap orang selama berabad-abad melalui metode Ideological State Aparathus yang dilakukan oleh aparat-aparat masa lalu untuk melanggengkan kekuasaan laki-laki atas perempuan. Arahmaiani mencoba untuk menentang terhadap status quo ini tentu saja. Tanpa perlu kuratorial yang rumit, judul pertunjukannya sudah menjelaskan hal itu. Tentu saja bila Sangkuriang hadir saat ini dia akan ke atas panggung pertunjukan mencoba untuk menghentikan ibunya yang menjelma Arahmaiani tersebut, sekalian untuk melampiaskan dendamnya karena ditipu di masa lalu sehingga dia tidak jadi menikahinya dan menendang perahu yang dengan susah payah dia bangun. Perahu rumah tangga yang gagal. Sebagian dari diriku tidak pernah menyalahkan Sangkuriang saat ingin menikahi ibunya. Bagaimana tidak, saat itu konon Dayang Sumbi meminum ramuan awet muda sehingga dia masih tampak muda saat bertemu kembali dengan Sangkuriang. Dan tentu sangat wajar bila Sangkuriang tidak percaya bahwa dia adalah ibunya, apalagi dengan adanya fakta bahwa ketika Sangkuriang diusir oleh ibunya waktu kecil ketika mengetahui Sangkuriang memanah suami anjingnya bernama Si Tumang, dengan cara dipukul kepalanya hingga mengalami amnesia. Mana Sangkuriang ingat siapa ibunya kalau begitu! Dayang Sumbi aja yang teramat bodoh sehingga tidak mengurai fakta2 ini. Maaf jadi mencaci! Tapi ini memang fakta! (haha…tampak lucu mengatakan fakta pada sebuah cerita legenda) Yah, wajarlah bila di kemudian hari Sangkuriang masih merasa dendam terhadap Dayang Sumbi yang mengkhianatinya. Hal inilah yang menyebabkan si tumang yang menjelma Gateaux-lotjo maju ke atas panggung untuk melindungi istrinya dari serangan orang-orang yang mungkin salah satunya adalah jelmaan Sangkuriang. Terjadi kepanikan luarbiasa saat itu. Hal yang diluar dugaan itu membuat suasana menjadi tegang, karena Gateaux-lotjo mengamuk seperti anjing terkena Rabies. Hingga datanglah seorang lelaki muda bernama Niskala mencoba menenangkan anjing itu. Tapi Gateuxlotjo terus menggonggong dan menyerang Niskala dan nyaris menggigit Niskala. Penonton panik dan sebagian berhamburan keluar. Arahmaiani diam memaku dan pucat pasi. Tak ada satu orangpun yang berani menenangkan Gateuxlotjo lagi setelah itu. Tiba-tiba Niskala meniru gerakan arjuna, seperti seolah sedang mencabut anak panah di punggungnya dan mengarahkan busurnya pada Gateauxlotjo. Saat inilah gonggongannya terhenti, melangkah mundur sambil menguik. Niskala masih mengarahkan busur-purapura-nya pada Gateuxlotjo dan lantas anak panah terlepas menancap tepat di jantung Gateauxlotjo. Gateauxlotjo pingsan seketika. Penonton mulai tenang. Suasana perlahan kembali normal. Pembukaan pameran dilanjutkan setelah Gateauxlotjo diamankan ke belakang panggung bersama Niskala. Panitia pameran menyangka bahwa kejadian tersebut adalah ulah kedua orang itu untuk mencuri adegan yang memang seringkali terjadi di Bandung. Biasanya panitia tidak pernah menghentikan apabila ada kejadian seperti itu, tapi kali ini memang berubah menjadi kekacauan. Bahkan Arahmaiani, yang menjadi bintang tamu saat itu, sempat mengalami shock dan menjerit-jerit sambil berusaha menahan bra-nya karena ada sekelompok orang yang ingin memanfaatkan suasana dengan menarik-narik pengait bra-nya. Serta ada seorang seniman muda yang mencoba mencuri artefak perfomance itu, yaitu kebaya Arahmaiani, tapi keburu ketahuan oleh salah seorang panitia pembukaan pameran, dengan malu-malu, seniman muda itu menyerahkan kembali kebaya Arahmaiani itu. Di belakang beberapa orang sempat terbawa emosi dan hampir memukuli biang keonaran ini, yaitu Gateaux-lotjo dan Niskala, karena beberapa diantara mereka tahu bahwa kejadian tadi bukan bagian dari performance yang ingin dipertunjukan Arahmaiani. MC terus berteriak-teriak berusaha menenangkan kepanikan ini, meskipun sebenarnya sebagian besar dari penonton malah tenang-tenang saja dan banyak diantaranya malah tertawa-tawa dan menganggap bahwa ini adalah pertunjukan yang paling lucu beberapa tahun terakhir ini dalam sebuah Performance Art setelah muntahnya seorang seniman performance pada saat mencoba menelan Bendera Merah Putih dalam Festival Perfomance Art Internasional beberapa tahun lalu di Yogyakarta. Di backstage, Niskala tertawa sambil mencoba membangunkan Gateaux-lotjo. Setelah ini terjadi sebuah percakapan serius dan mistis diantara kedua orang ini mengenai stigmata mereka tadi. Esoknya, Gateaux-lotjo kembali ke galeri tersebut. Memandangi patung Dayang sumbi yang sedang menitikan air mata karya Herra tersebut. Dan dia mulai bermonolog dengan patung itu. Sepertinya ini adalah monolog pertamanya pada benda mati. Istriku…kau masih mengingatku? Tadi malam ketika kau diganggu puluhan manusia biadab, termasuk anak kita, sungguh…aku benar-benar naik pitam. Aku tak bisa menahan emosi ketika kau diperlakukan sedemikian kejamnya. Patung ini, yang menurut senimannya adalah patung replika pertama untuk patung batu Dayang Sumbi yang ditemukan tujuh tahun lalu di sebuah gua yang terkubur ratusan tahun di Daerah Dago Utara dalam sebuah penggalian untuk proyek perumahan. Patung Dayang Sumbi tersebut, yang sudah banyak cacat di sana-sini diperkirakan dibuat pada abad ke 12 pada zaman pemerintahan Sri Baduga Maharaja. Ada pahatan Dayang Sumbi dengan huruf paku pada kakinya. Profile muka dan bentuk tubuhnnya mendekati kecantikan ideal perempuan sunda. Sekarang patung tersebut menjadi milik pemerintah dan masih diteliti oleh para ahli sejarah di Museum Geologi di JL. Diponegoro. Herra, atas izin pemerintah, membuat replikanya dengan melakukan penyempurnaan pada bagian yang cacat dan mempercantiknya dengan sentuhan-sentuhan yang lebih halus dan menurutnya ini lebih mudah sebab dia membuat replikanya dalam media kayu mahoni yang sudah direndam selama satu tahun dalam cairan kimia khusus untuk membuatnya lebih lunak dan pada tahap finishing dia menyemprotnya dengan cairan lain yang membuatnya lebih kuat dan awet hampir mendekati karakter batu. Pameran ini dimaksudkan untuk lebih mendekatkan masyarakat pada cerita rakyat tersebut dangan bantuan dana yang besar dari pemerintah. Ini adalah pameran pertama Herra yang mendukung propaganda pemerintah tentang cerita sejarah. Sungguh ironis, sebab tadi malam performance Arahmaiani justru menyerang pemerintah dengan kritik Feminis dalam performance art nya. Meskipun sempat terjadi insiden, tetapi begitulah kebiasaan Performance Art di bandung, akan banyak sekali orang yang ingin tampil dan mencuri adegan apabila performance tersebut melibatkan interaksi audiens. Saat ini ruangan sedang sepi, hanya ada gateuxlotjo, artefak performance art tadi malam dan patung replika Dayang Sumbi. Dialog mereka terjadi selama hampir dua jam hingga satpam yang tadi malam mengamankan mereka datang dan mengenali Gateaux-lotjo lantas mengusirnya untuk segera keluar dari ruangan itu. Entah kenapa, dengan patuh Gateux-lotjo keluar nyaris tanpa perlawanan.
Bagian Ketiga
Lelaki Tua, Sebuah Gua Tak Terjamah dan Sekelompok Pemuda Yang Tak Mau Disebutkan Identitasnya
Pencurian itu dilakukan dengan penuh perencanaan yang matang. Ketika semua orang mendatangi pembukaan pameran patung di CCF, patung aslinya yang masih disimpan di museum geologi tidak terlalu dijaga ketat malam itu. Dia, menurut pengakuannya sendiri pada saya beberapa hari setelah kejadian ini, bersama beberapa teman yang sudah merencanakan ini berbulan-bulan yang lalu, mengendap-endap mendekati ruangan museum. Cerita ini asalnya tidak akan saya ceritakan dalam bagian fiksi ini, sebab ada semacam sebuah perjanjian antara saya dan para pelaku dalam kejadian ini untuk merahasiakan seluruh kejadian. Tapi dengan niat yang tulus akhirnya saya minta izin kepada mereka untuk menuliskan kejadian spektakuler ini dengan alasan sangat sayang apabila hanya terkubur dalam sebuah rahasia yang tidak perlu. Dengan berat dan penuh ancaman akhirnya mereka mengizinkan asal tidak menyebutkan nama ataupun inisial mereka serta tempat dimana patung itu akhirnya disembunyikan. Saya menyetujuinya, dan sesuai perjanjian tadi saya hanya akan menceritakan proses pencurian itu hingga akhirnya mereka berhasil mendapatkan (kembali) patung itu. Dan menyimpannya di tempat yang menurut mereka adalah “tempat seharusnya”. Setelah berpikir berkali-kali tentang bagaimana cara saya menceritakan kejadian ini akhirnya saya memutuskan untuk menyusunnya dalam sebuah kronologi menjadi semacam bahan untuk rekonstruksi: Tiga orang pemuda berkumpul di sebuah warung makan yang tak jauh dari museum geologi tersebut Empat pemuda lainnya menyusul dengan menyamar memakai baju pegawai negeri. Mereka mengobrol di warung tersebut dan seperti seolah antara kelompok pemuda pertama saling tidak mengenal kelompok pemuda yang kedua. Seorang wanita memakai rok pendek dengan atasan blazzer turun dari sebuah mobil BMW dan mendatangi kelompok pemuda yang pertama Empat pemuda yang memakai setelan pegawai negeri menyeberang dan memasuki pagar kompleks museum geologi. Salah satunya terlihat mendatangi satpam dan seperti sedang membicarakan sesuatu. Satpam meraih rokok yang ditawarkan pemuda itu Satpam pertama pingsan, terkena zat yang ada dalam rokok itu. Satpam kedua yang baru datang dari toilet mencoba menolong temannya, tapi dengan cekatan sekelompok pemuda tadi memukul belakang kepala satpam kedua. Ternyata satpam kedua tidak langsung pingsan, dia malah melawan…
bersambung…