Bagian Dua: Dendam, Drugs Overdose dan Samantha
Di sebuah malam yang cukup redup, malam yang cukup tenang, malam yang libidinal, di lobby hotel yang penuh kemenangan, penuh ilusi, penuh lenggok padat wanita-wanita anorexia, secangkir coklat panas, secangkir adrenalin panas, secangkir hyper aktivitas jari menekan keyboard laptop dengan Microsoft Word menjadi major, secangkir hutan lebat dalam kepala, secangkir cinta. Seorang gadis dengan muka mannequin menyorotkan matanya tajam ke ujung terdalam jantungku, menyorotkan detak hormon estrogen terbaiknya, dan pheromone yang begitu deras menyertainya, memukul bagian terjauh kesadaranku. Aku berdegup jantan… serta beberapa aphorisma dari Rumi, diiringi ketukan nadi janin di rahim gadis itu. BOOM…!!! Terjadilah maka terjadilah… Hanya beberapa bagiannya yang kutahu, matanya, sudut-sudut terlancipnya, dagu belahnya, dan sebentuk tanda lahir 3 senti di bawah pusarnya yang sedang membulat, membalon, serta puluhan gurat singkayo yang begitu mempesonakan persepsi terindahku. Coba perhatikan ini… Samantha Story
Babak I. Episode I.
Samantha
Samantha berteriak "Joey…, Joey…, tunggu aku!"
Joey membalas berteriak "Samantha? Kau bukan Samantha! Aku tidak kenal kau"
Samantha bernyanyi La… la… la…
Joey berkeras "Kau bukan Samantha minimal, bukan Samantha yang kukenal."
Juli ’98 Gadis itu mendatangiku…masih dengan sorot mata yang tadi… "Mau tidur? Murah kok, 200 ribu short time."
Shock!!! "Ok…dimana?" "Diatas, lantai 3. ikuti aku!"
"Siapa namamu?" "Samantha lah, apa lagi!" "Sorry, terkadang aku butuh basa-basi, butuh foreplay…!" "Tapi aku capek banget malam ini…ngantuk!" "Terus, kenapa kamu menawariku?" "Maksudku, aku terlalu lelah untuk Foreplay. Dan ada sesuatu dalam diri kamu yang aku belum tahu apa itu…" "Ya udah gak usah kalo gitu, kita ngobrol aja…Aku fine kok!" "Jangan lah, ini udah resiko pekerjaanku. Aku Ok, asal To The Point." Lantas dia tiduran diatas kasur empuk berbau lelaki yang melayang sebelumku. "Emang udah berapa tamu yang kamu layani hari ini?" tanyaku sambil menyalakan sebatang Marlboro. "Udah 8, dari tadi siang." "Oh.. pantesan. BTW, ini kali pertama lho aku kesini." "Ngewe?" "Bukan, "jajan" begini." "Ah, yang bener?" "Swear!" "Terus biasanya gimana?" "Ya ama cewek, cuman gratisan…" "Emang hari gini masih ada yang gratisan?" "Banyak lah, aku kan ganteng. Malah pernah suatu ketika aku yang dibayar." Menyeringai, "Tapi biasanya kebanyakan aku sama pacarku, kok." "Pacarmu? Kau punya pacar?" "Entahlah, tapi sebenarnya aku mencintainya, dan dia tidak pernah mempercayai itu…" "Seperti lagu Trust, The cure??!"
"Yah, mirip2 seperti itu, kau suka The Cure?" "Hehehe… iya… mengingatkanku akan seorang teman, berdandan seperti Robert Smith." "Aku juga memiliki teman seperti itu." Dia memandangku, lekat, langsung ke mataku… "Mau sekarang?" katanya sambil merebah dan membuka satu persatu pakaiannya, hingga tinggal BH dan celana dalam saja yang melekat di tubuhnya. "Santai aja dulu…Sebatang rokok lagi." Jawabku sambil menyalakan batang kedua Marlboro di kamar ini. … "See, aku gak bisa turn on kalo pake kondom?" "Ya udah, buka aja, tapi keluarin diluar ya!!!" "Ok!" "Tapi asal kamu tahu, ini kali pertama aku membolehkan tamu tidak memakai kondom." "Terus kenapa kamu membolehkan aku?" "Aku percaya sama kamu, disamping aku masih penasaran dengan sesuatu di dalam diri kamu." "Apa itu? Sudah ketemu?" "Belum, nanti juga ketemu. Sekarang mending kita mulai lagi aja." … "Ah… lemes banget…" Pengalaman pertama yang aneh
"Aku juga… Eh lihat handphonemu dong…ada kameranya gak?" katanya sambil mengambil mobilephone ku diatas meja disudut kamar. "Emang kamu mau difoto telanjang?" "Mau…fotoin dong!" "Sini…!" Aku meraih HP ku dari tangannya dengan semangat yang aku sendiri belum bisa menerjemahkannya hingga sekarang, kuaktifkan kameranya…
Klik… mukanya… klik… buah dadanya… klik… setengah tubuh telanjangnya… klik… seluruh tubuhnya 3 kali… klik… memory full… "Yah…aku kan masih pengen di foto." "Iya nih, memorynya habis, kuisi dengan lagu-lagu dan puisi temanku. Kamu gak takut kalo nanti aku sebarin photo ini di Internet?" "Justru itu tujuannya, agar kamu sebarin di internet, lumayan publikasi gratis, naikin harga pula. Eh, denger dong puisi-puisi temen kamu itu…! Aku suka lho puisi…" "Ok!" "Cara nge aktifin loud speakernya gimana?" "Tombol sebelah kiri…"
segala yang terurai menjadi lahir untukku menjadi mati untukmu tatkala aku jadi seribu aku seribu sperma yang merindukan sejuta lelehan lendir panas iblis betina
aku adalah sperma yang menjadi janin dan menggonggong menjadi anjing dalam rahimmu rahim para dewi yang bersimpuh di lantai kahyangan yang menjilati setiap keringat birahi para sesuci
aku adalah sperma terasing yang akan menjilati setiap dinding-dinding rahim mencari sel telur telanjang untuk kuperkosa gairah kemenjandaannya, bergiliran
aku adalah sperma terbuang menjadi kecoak dalam got-got di setiap sudut matamu yang akan menyakiti setiap mili keangkuhan detak jantungmu yang akan membuat vaginamu mengeluarkan lendir busuk peradaban
aku adalah sperma masokis yang mencari rahim untuk kurasuki ruh kemarahanku agar mati agar mati agar jeruji segera menghantam kebebasan bercintamu
aku adalah batara kala sperma dewa yang terbuang yang menjadi raksasa yang akan segera membinasakan kesuburan rerumputan berharum diantara selangkangan para bidadari
matilah! matilah! aku tidak peduli! "Wow… puisinya keren banget, dan sepertinya aku sering mendengar puisi itu, dimana ya..? Temen kamu ini penyair ya…jantungku langsung berdetak kencang gini… Merinding dengernya. Dulu aku pernah mendengar puisi yang senada, tapi aku lupa dimana…" "Sebenarnya bukan penyair sih… Dia anak band…" "Oh…kayaknya dia dendam banget ya ama wanita?" "Gak juga sih, entahlah, aku juga dah lama gak ketemu dia. Puisi ini dia kirimin lewat E-Mail, terus ku download ke HP ku. Aku seneng denger suaranya." "Dia sahabat kamu ya? Namanya?" "Yup, deket banget, temen waktu di panti asuhan dulu. Aku diadopsi duluan oleh keluarga diplomat gitu deh, jadinya aku bisa keliling2 dunia. Semenjak itu aku jarang banget ketemu dia. Pernah sekali dua kali waktu dia manggung di Jakarta. Aku gak pernah mau ke Bandung lagi. Trauma…" "Namanya?" "NISKALA…" "Niskala? dia temanmu yang berdandan seperti Robert Smith? Oh, Gosh…!!!" … "Udah yuk…?" "Ok…" "Oh ya…bayarnya setengah aja, aku gak bagus tadi ngelayanin kamunya. Nanti kamu kesini lagi aja. Tadi dah ku save nomor HP ku di HP mu." "Bener nih? Gapapa?" "Ya udah, gapapa, lagian aku gak prof banget tadi, capek banget. Aku mau tidur dulu ya…" "Ok, thank’s ya… Bye Sam…!" "Bye Cyan! See ya’…"
Lho, kok dia tahu namaku??? …
Apakah aku salah, apakah aku salah berdoa untuk mati hanya karena rindu bercumbu dengan Tuhan??? Suara Niskala Ruhlelana menggelegar di telinganya, terbangun, mengumpulkan nyawa…
Ah… dimana aku?
Dimana aku?
Perlahan, sangat perlahan, puzzle-puzzle ingatannya mulai terkumpul…
Gadis itu terbangun dan guprak!!! Tubuhnya terjatuh dari ranjang butut itu, puzzle-puzzle ingatannya membuyar lagi, berantakan, dengan lelah, pusing dan sakit di pinggangnya akibat benturan tadi, gadis itu mencoba mengumpulkan dan menyusun kembali puzzle-puzzle ingatannya.
Aloerotisme
Ya, ya… aku ingat, lagu ini… lagu ini… tapi apa ya…? Kenapa tiba-tiba lagu ini menyalakan sesuatu dalam kepalaku.
Jeritan suaramu itu, menyentak tidur panjangku… Sebuah nama terlintas dalam kepalanya. Nama itu melaju fade in seperti screen saver dengan background gelap dan muncul huruf satu persatu… C… Y… A… N…
C Y A N…! Aaaaaaaaaaaaa……!!! Dia menjerit lagi, semakin menjadi.
Suara itu kembali menggelegar, Cyan, Chart! Cyan meninggal… Chartreuse tidak bisa menahan jeritannya. Ingatannya membanjir, menghanyutkan semua puzzle ingatan yang tadi dia kumpulkan. Dia sudah tak butuh lagi puzzle-puzzle itu. Sekarang semuanya sudah jelas. Dia sedang berada di kamar Cyan, kekasihnya, yang begitu mencintai SID, bahkan sangat fanatik. Semua yang dilakukan Niskala nyaris diikuti Cyan. Album Labirynth of Dream #1 (feat. Borges
AAAAAAAAA…!!!
Tiga hari yang lalu Chartreuse mendapat kabar itu. Chartreuse menjerit, tak sadarkan diri, terbangun dan menjerit lagi, terus begitu…
Cyan ditemukan meninggal dalam kamar kost-nya dengan jarum suntik masih menancap di urat nadi tangan kirinya. Dan lagu Keranda Mimpi masih menggelegar.
Chartreuse sudah tahu dari awal bahwa Cyan sudah tidak bisa disembuhkan. Bukan hanya darahnya yang diracuni zat-zat kimia sialan itu, tapi juga pikirannya yang diracuni lirik dan gaya hidup Niskala. Pengaruh itu sudah tersimpan permanen dalam setiap sel darahnya. Bahkan semenjak itu Chartreuse sering gak digubris sama Cyan. Dia hanyalah pacar ketiga Cyan. Pacar pertamanya SID, pacar keduanya Heroin. Sebenarnya air mata Chartreuse sudah kering untuk Cyan.
Tiga hari yang lalu setelah mendapat kabar itu, setelah penguburan jasad Cyan, setelah semua prosesi itu selesai, Chartreuse pergi menuju bekas kamar kost Cyan, dia punya kunci cadangannya.
Kamar itu sudah kosong, hanya tinggal tape compo butut dan ranjang yang lebih butut yang masih teronggok di kamar itu, selebihnya sudah ludes digadai Cyan untuk memenuhi kebutuhan kimianya.
Sesampai di kamar itu Chartreuse membaringkan dirinya di ranjang butut itu, ranjang yang dipenuhi ribuan kenangan dia dan Cyan. Ranjang tempat pertama kali ia dibuai Cyan dengan janji-janjinya, diperawani Cyan dengan lembut bahkan tanpa tangisan. Ranjang tempat ia tidur terlelap dipeluk Cyan. Tempat ia curhat dengan Cyan tentang keluarganya. Tempat Cyan menonton video klip SID dan beberapa film dokumenter tentang Niskala saat Cyan masih memiliki TV besar dengan DVD Player dan seperangkat Dolby yang canggih, tempat Cyan terbaring sambil mendengar suara Niskala pujaannya. Tempat Cyan pertama kali menyuntikkan racun sialan itu. Tempat Cyan menjerit-jerit sakaw. Tempat Chartreuse menangis dan Cyan meracau, addicted.
Chartreuse mendekati tape sialan itu, menekan tombol play,
Sekali lagi kukatakan bahwa dosa telah tiada…Sekali lagi kukatakan bahwa dosa telah tiada…
Chartreuse membaringkan lagi dirinya di ranjang butut itu, kelelahan, galau, dihunjam kesakitan yang amat dalam, kesedihan tanpa air mata, lalu tak sadarkan diri…
Dan aku bukanlah apa-apa… ***
Samantha menghadiri penguburan itu dengan berbagai alasan; Semenjak kematian Joey, kuburan sudah seperti sarapan pagi, makan siang dan cemilan malam baginya… Mengenang Niskala… Mencoba kembali melecutkan vaginannya diatas pusara, apa masih sedahsyat dulu… Kematian baginya jelas merupakan suatu hal yang sangat biasa, banyak sekali orang-orang mati ketika bersentuhan dengannya, termasuk Cyan. Hanya dia memang yang tahu persis penyebab kematian Cyan. Tepat seperti yang dilakukannya pada Joey.
Coba perhatikan ini:
Samantha Story babak I Episode II Samantha Teriak (Sekuel Samantha) Samantha kembali berteriak "Joey, aku ingin mati." Joey balas berteriak "Matilah! Aku tidak peduli." Samantha bergumam "Baiklah, aku akan mati tapi indah dan kau ikut." Joey balas bergumam "Samantha, aku tidak kenal kau yang sekarang. Lantas, siapa kau?" Joey mendekat Samantha merangkul bayangan Joey Samantha berteriak di telinga Joey "Aku Ruh Kematianmu! " Joey meninggal dunia dalam rangkulan cinta Samantha Joey mati muda Samantha teriak "Joey, jangan mati!"
Bandung, 20 Mei ‘99 Tengah Malam Rumors bahwa kematian Cyan disebabkan oleh Heroin dan Niskala tentu saja tidak benar, menurutnya. Samanthalah yang membunuh Cyan. Keinginan kuat Samantha untuk matilah yang menyebabkan energi kematian itu berpindah pada Cyan.
Samantha pertama kali melihat Chartreuse pada saat prosesi penguburan jenazah Cyan. Samantha memperkenalkan diri, "Namaku Samantha…akulah yang membunuh Cyan. Maafkan aku!"
…
Kenyataan itu tidak pernah diakui Chartreuse. Ingatannya tentang Samantha hanyalah pada wilayah dendam. Dendam yang mungkin membangkitkan gairahnya untuk membunuh atau bunuh diri. Tapi meski begitu, kedua hal itu tidak akan pernah terjadi.
sudah meracuni hidupnya. Semenjak mendengar album itu Cyan mulai kecanduan heroin.