Hopeless but maybe you can help me…
Sakit itu membuatku gila…
Sakit yang belum pernah kurasakan ini membuatku menyesal tidak menyusunnya terlebih dahulu dari semenjak awal.
Sakit yang disebabkan oleh kebingungan. Aku bahkan tidak tahu sakit ini muncul karena terlalu mencintainya, atau karena egoku merasa dikalahkan, atau karena terlalu khawatir dengan apa yang akan mungkin terjadinya padanya setelah aku benar-benar pergi dari hidupnya.
Aku kesepian, aku merasa ditinggalkan oleh semua orang. Semua orang yang kucintai dan semua orang yang pernah mencintaiku. Dari awal aku selalu bilang bahwa aku lebih senang mencintai daripada dicintai. Ternyata selama ini aku berbohong pada diriku sendiri. Aku juga butuh dicintai. Atau mungkin egoku butuh keseimbangan.
Aku selalu bilang pada orang-orang bahwa rasa cinta yang muncul setelah kau dikecewakan atau ditinggalkan bukanlah rasa cinta yang sebenarnya, itu hanyalah ego karena kau merasa dikalahkan. Memang mudah ketika bicara, ketika itu terjadi pada orang lain, tapi ternyata sangat sulit jika itu menimpa diriku sendiri. Aku bahkan tidak tidak tahu lagi apa yang kuinginkan, apa yang harus kuperbuat berikutnya.
Sekarang semua hal yang kulihat, kudengar, kurasakan, jadi terasa menyakitkan. Semua makanan terasa hambar, semua hiburan tak mempan menghiburku, semua kesibukan hanyalah mengalihkan perhatianku sesaat saja. Ketika aku sendirian, semua rasa sakit itu kembali menghampiri.
Aku bahkan sudah tidak bisa lagi berteman dengan siapapun, entah kenapa. Mungkin aku ketakutan. Takut dikhianati lagi, takut menyakiti, takut disakiti, takut salah, selalu saja takut untuk memulai sebuah hubungan baru, meskipun hanya berteman. Lengkapnya aku merasa meninggalkan dan ditinggalkan semua orang, meninggalkan dan ditinggalkan dunia.
Aku tahu, ini bukanlah penderitaan terbesar yang mungkin terjadi pada manusia, masih banyak orang yang lebih menderita dari aku, tapi kenapa aku merasa saat ini aku sangat menderita, aku sangat sakit.
Hal yang selalu hadir dalam imajinasiku saat ini hanyalah bagaimana cara bunuh diri yang efektif. Hal yang dari dulu selalu kuhindari. Karena bunuh diri bukanlah sebuah jalan keluar yang terbaik untuk siapapun yang sedang menderita seperti aku. Sebenarnya aku sangat ngeri dengan hal yang menyangkut bunuh diri. Aku takut aku akan melakukannya. Tapi pikiranku selalu saja ke arah
sana , bunuh diri.
Aku pernah terobsesi dengan bunuh diri, dulu. Aku selalu merasa bahwa bunuh diri adalah cara mati yang paling indah. Tapi aku sudah meninggalkan pikiran itu ketika aku bertemu dengannya. Dia datang padaku dengan mengenalkanku pada realitas, karena sebelum ketemu dia aku lebih banyak hidup di dunia mimpiku, di dunia fiksi yang kubangun sendiri. Aku bahagia dengannya, meski aku harus meninggalkan dunia fiksiku yang kucintai sebelumnya, aku lebih mencintainya. Aku senang dengan realitas yang ditawarkannya padaku. Aku menjalaninya, membangun mimpi bersamanya. Bahkan aku sudah tidak punya mimpi untuk diriku sendiri, setiap kali aku bermimpi selalu mimpi bersama dia, mimpi untuk kita berdua. Dan kupikir diapun melakukan hal yang sama sepertiku. Hingga pada akhirnya dia meninggalkanku saat aku sudah benar-benar tidak punya mimpi untuk diriku sendiri, semua mimpi yang kususun adalah mimpi-mimpi bersamanya.
Ketika dia meminta untuk mengakhiri hubungan, aku benar-benar shock, karena ini benar-benar diluar dugaanku, duniaku langsung runtuh seketika, mimpi-mimpi yang kubangun untukku dan untuknya hilang seketika. Aku limbung dan nyaris muntah-muntah. Aku mencoba menerimanya, tapi malah rasa sakit luar biasa yang muncul. Manusia tidak bisa hidup tanpa mimpi bukan? Sekarang aku benar-benar tidak lagi punya mimpi, aku merasa untuk apa lagi aku hidup, karena selama ini aku hidup karena ada dia disampingku, selalu ada dia, untuk dia.
Sekarang aku hidup untuk apa!
Aku sudah tidak punya energi untuk melakukan apapun. Sedangkan dia… dia sudah merencanakan hal ini 3 bulan sebelum memutuskan hubungan, dia sudah membangun mimpinya sendiri secara diam-diam selama 3 bulan tanpa mengikutsertakan aku didalamnya. Jadi dia sungguh baik-baik saja. Aku? Jelas tidak! Ini terlalu mengagetkan, terlalu cepat. Selama ini aku membayangkan menghabiskan masa depanku dengannya. Sedang realitas yang kuterima sekarang tidak begitu.
Aku harus memulainya lagi dari awal, memulai hidupku dari awal, karena semua kehidupanku sudah diambilnya, semuanya. Dan aku sudah tidak punya energi lagi bahkan hanya untuk memulai.
Apa benar dalam kondisi seperti ini jalan terbaik adalah mengakhirinya saja. Dalam hal ini apakah aku harus mengakhiri hidupku saja untuk menyelesaikan segala urusan?
Somebody, help me please…! Beri aku jalan keluar, apakah aku harus memulainya lagi dari awal? Bagaimana caranya? Atau akhiri saja? Bagaimana juga caranya?
Aku tahu, ini terdengar sangat cengeng dan cemen, tapi aku benar-benar sedang butuh bantuan sekarang, bukan judgemental.
October 24th, 2005 at 1:16 am
” nothings immortal in this absurd world ”
thats the only words i can say about ” our ” life.
Saat kita sdh tidak punya mimpi lagi - saat mimpi itu sudah dibawa pergi oleh seseorang yang kita cintai dengan seluruh nafas kita, ingatlah tentang kalimat diatas.
Aku bukan malaikat yang bisa menolong, tetapi Aku adalah seorang teman yang bercermin pada sebuah kaca retak ketika melihat kamu.
Kamu adalah aku dan aku adalah kamu.
Kamu adalah kembaranku dalam luka, begitu pula sebaliknya.
Aku adalah raga dan kamu adalah roh ketika tersakiti. Bercerminlah padaku ketika kamu sudah tidak bisa lagi bernafas - karena memang benar, derita, bukan hanya milik kamu sendiri.
There’s no way out,
yang bisa kita lakukan hanyalah menunggu waktu, berdiam dalam ruang-ruang sunyi yang kita buat sendiri.
Dan sendiri adalah padang rumput terbaik untuk menyembuhkan diri karena tidak ada siapapun atau apapun yang dapat menyembuhkan hati yang sekarat.
Rasa dari luka itu tidak akan pernah hilang, walaupun suatu saat luka itu mengering dan tidak lagi bernanah, bekasnya akan selalu ada. Dan sambil menunggu itu, yang bisa kita lakukan hanyalah menikmati rasa sakitnya.
Tidak ada yang kekal, Vin, kecuali apa yang ada di dalam benak kita - pikiran2 yang masih sedikit menyisakan hidup untuk raga kita.
Kamu mencintainya, jangan diingkari - sama seperti aku mencintainya, dan itu yang sedang aku lakukan - menjadi jujur. Dan kita memang telah tersakiti - itulah realitas yang harus kita telan dan menyimpannya dalam otak kita yang mulai berkarat.
Tapi apakah benar mereka sengaja menyakiti kita ataukan kita yang telah menyakiti diri sendiri semenjak awal ?
Mungkin, ketika itu telah terjadi, satu-satunya hiburan adalah bercermin pada orang lain - pada banyaknya kloning kita di luar sana - walaupun itu terasa begitu menakutkan dan terasa seperti mimpi buruk - setidaknya, kita bisa punya sedikit mimpi lagi untuk diri sendiri.
sekali lagi, aku bukan malaikat yang bisa menolong dan memang tidak pernah berniat untuk menjadi’nya’. Aku juga bukan seorang penasehat, karena aku tidak suka dinasehati. Aku hanyalah hantu yang mencoba melarikan diri dari dua reinkarnasiku yang selalu dikutuk untuk menerima karma buruk.
Sekarang, dalam reinkarnasiku yang ketiga, aku adalah seorang teman yang melihat bayangannya saat melihat kamu, seseorang yang juga masih mengambang diantara ruang dan waktu - diantara realitas dan mimpi yang mulai kubentuk dengan sedikit memori yang masih tersisa.
Aku belum keluar dan mungkin tidak akan bisa keluar, dan aku hanya bisa mengatakan…nikmatilah rasa sakit itu, karena mungkin….mungkin….suatu hari nanti jika kita masih memiliki nafas untuk merasakannya…kita bisa menertawakan hari ini.
Dan satu lagi…tidak ada yang salah dengan menjadi gila karena gila adalah satu-satunya hiburan disaat “hampa” menjadi sahabat kita.
Luv*deci*
May 24th, 2006 at 9:29 am
yang ada saat baca Hopeless but maybe you can help me… sekaligus selipan comment dari deSiKeCil, membuat gw terkesima, gw salut deh, kalimat-kalimat kalian dasyhat
salam,
July 1st, 2006 at 11:29 pm
wah biasa aja kok, itu cuma ungkapan kekecewaan pengganti alkohol dan ganja